tapi pilihan kitalah yang menentukan siapa diri kita.
Yes, I choose to be happy everyday. Even it will be OK if I have to be happy after being sad. Because being sad means I am in my nice step to be happy everyday.

Desember sudah setengah jalan. Rasanya, resolusi sejak tahun lalu masih berbunyi seperti resolusi untuk tahun 2008 nanti:


Saya teringat sebuah sinetron di RCTI yang diperankan oleh Elma Theana dan Derry Drajat, menggunakan soundtrack lagu Sheila On 7, Sahabat Sejati. Sebuah sinetron berjudul Takut jatuh cinta apa siapa takut jatuh cinta gitu deh... Kalau sampai jatuh cinta, akan ada hal-hal aneh yang terjadi pada orang yang dicintai.
Entah kenapa, sepertinya baru malam ini saya begitu peduli dengan eksistensi pejabat teras kota Pontianak tercinta. Saya menangis, mengetahui hasil perhitungan suara tentang siapa yang akan menjadi pemimpin provinsi Kalimantan Barat berikutnya. Yeah, memang benar air mata tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi saya sedikit lega mengeluarkan tangisan itu malam ini. Helaan nafas saya seakan baru saja melepaskan sebuah jahitan terik sesakkan dada. Saya benci, sungguh tak ikhlas dunia akhirat jika harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang sangat jauh dari karakter pemimpin yang disyari’atkan dalam Islam. Bagaimana mungkin ulil amri saya nanti tidak akan melakukan shalat 5 waktu?
Saya ingat saya pernah punya cita-cita untuk menjadi asisten dosen sebelum saya lulus kuliah. Tidak ada target di semester berapa saya bisa. The sooner the better. Saya ingat juga pernah berkata pada diri saya sendiri, ”Saya akan menjadi seorang asisten dosen, dan saya akan menjadi dosen suatu hari nanti”. Sempat sedikit terhapus ingatan saya tentang perkataan saya itu karena rasa bosan akibat porsiran tenaga tak henti-henti dari pagi sampai malam. Namun, hari ini, saya merasa bahwa perkataan itu sungguh benar-benar telah tertanam kuat menjadi sebuah kalimat FUTURE yang benar-benar akan terjadi.
Wah, sudah begitu lama tidak memanjakan diri dan mengembangkan logika saya nih. Bukannya sok sibuk atau terlena menanti maret sih. Tapi lebih pada time management yang kayaknya agak sedikit berbeda dari biasanya. Sekarang, welcome back idea. Welcome my true inspiration.Pagi yang sungguh menyenangkan. Entah kapan terakhir kalinya saya bergembira ria di pagi hari seperti hari ini. Saya ingat, salah seorang penyiar di radio tempat saya siaran pernah berkata: ”Mulailah pagi anda dengan sesuatu yang dapat menyenangkan hati anda. Anda bisa dengarkan lagu favorit untuk membangkitkan kembali semangat anda, atau lakukanlah hal yang menurut anda bisa membuat anda tersenyum seharian ini!”.
Pagiku tersenyum dari deringan handphone :) Deringnya saja sudah menyenangkan. Tapi sungguh, saya benar-benar tidak bisa biarkan deringnya terlalu lama. Harus segera diangkat! Ternyata, jadi lebih menyenangkan setelah handphone saya tidak berdering lagi. Benar-benar amazing morning full of smiling :) Pagi yang menyemangatkan saya untuk selesaikan urusan duniawi buat hari ini. Sebuah pagi yang juga mengantarkan saya untuk mencintai seorang musuh. APA? MENCINTAI MUSUH? Apalagi ini?
Sangat menarik. Banyak orang yang *sangat saya yakini* tidak ingin memiliki seorang musuh pun di dunia ini. Garis bawahi kata seorang. Count out setan-setan yang memang sejak lahir sudah jadi musuh kita. Nah, secara manusiawi, tentu saja manusia tidak mau bermusuhan atau mencari-cari musuh ya? Tapi, rupanya pagi yang cerah ini telah mengantarkan saya pada satu statement yang bagi saya sangat menarik:
Musuhku, Je t’aime.
Ya, saya mencintai musuh saya. Dia seorang musuh yang saya yakini, pun mencintai saya juga. Dia musuh yang menyenangkan. Seorang musuh yang barangkali tidak begitu sadar bahwa di luar koridor hubungan profesional yang harus dinanti usai hingga maret itu, sudah menjatuhkan dirinya ke dalam sebuah cinta yang sama sekali tak pernah dibayangkan, tak pernah diimpikan, tak pernah diprediksikan.
Musuhku, jangan berhenti memusuhiku di dalam batas hubungan profesional ini. Musuhku, saya sayang kamu.
Siapa lagi yang mau jadi musuh saya?
Walaaah, sudah bulan november ya? Alhamdulillah, sebentar lagi menyongsong tahun 2008! Ada banyak agenda yang sudah saya rancang untuk tahun depan, terutama menantikan maret yang mendebarkan.
Ini minggu terakhir saya bisa ada di rumah untuk jelang malam nih. Bulan depan, sudah harus pulang malam lagi, hampir setiap malam. Lagi-lagi pekerjaan. Bingung juga bagaimana nih saya akan splitting body into different but many purposes and places.
What a hectic day! But happiness still flow slowly but sure as the time goes by. Amazing day. However, it’s not been really full day of October 30. I’m, as usual, in the middle of the nite after playing a bit with some nice task and interesting duty dealing with this lovely notebook ;)

It’s not really damn cold nite to say. But I always say that fever or headache or influenza or something like that is just a sugesty. It’s not a real disease. Don’t feel it, so you will not feel it. Simple, right? If you do not wanna be sick, why should you say that you are going to be sick? I am not going to have fever coz I dun wanna leave my beloved broadcasting time. Fever means no working, no going to campus, no teaching. Yea, I’ve told that here and here also.I will not let myself hurt anymore, of course. I also have no heart to hurt one who has no heart to hurt me. I am willing to wait till I find no more boundaries between.
Kebaikan yang kita lakukan bukanlah untuk orang lain, namun untuk diri kita sendiri.(Mama, Oktober 10 2007)
Masih ada beberapa postingan untuk di publish di blog saya tercinta ini. Namun, sepertinya kesibukan membuat saya tidak bisa benar-benar memaksimalkan waktu yang saya punya untuk sekedar posting tulisan. *DUH, sok sibuk hahah*.
Akhir pekan, liburan, tetap saja pekerjaan adalah sang kesayangan. Pyuwh. *mengeluh terus aja din, capenya bakalan makin terasa!*.
Obrolan ringan sore tadi menggelitik jari ini untuk membuat tulisan berjudul di atas. Haha. Sebelumnya, marilah kita lihat *terutama para pria* buncitkah perut Anda? Jika ya, maafkan saya jika Anda tersinggung.
Hmmm, alhamdulillah ternyata hujan siang tadi benar-benar berkah. Berkat hujan, kaki saya melangkah ke TB Gramedia. Membiarkan mata saya bermanja-manja dengan ratusan ribu buku yang barangkali tidak saya beli, namun saya lirik dan saya baca sebagian halamannya. Hujan siang ini pulalah yang mengantarkan saya pada sekumpulan halaman, hampir penuh berisi hewan cantik kesukaan saya!
sih, berikhtilat dalam Islam memang tidak boleh, dilarang. Namun, lokasi duduk saya dan teman-teman malam ini sepertinya tidak mengindikasikan ikhtilat apalagi khalwat. Anyway, saya yakin bahwa semuanya tergantung niat. Saya dan teman-teman tidak menjadikan kafe tadi sebagai tempat maksiat. Alhamdulillah pula, tidak ada maksiat yang bisa kami saksikan malam ini. Hmmm, barangkali peluang bagus juga ya untuk saya dan rekan-rekan Gaby, berpikir tentang berbisnis kafe, khusus akhwat yang ceria dan butuh refresing pula hehe.
This Saturday, I and my friends –Gaby the crazy—have already planned to have breakfasting together in one cafe nearby Kapuas River. It’s been along time for me didn’t spend my time hanging out with friends and have fun. So, I consider to just skipping home breakfasting with almost my whole big family. Sometimes, in some certain cases, friends are much more worthy than family.
Puasa ke 20, selepas kuliah saya dan teman-teman (yang akhir-akhir ini mendeklarasikan diri secara tidak formal dengan sebutan GABY) memilih untuk menghabiskan waktu dan tenaga dengan bertualang ke Mal. Petualangan yang menarik. Perginya bertujuh, tapi pulangnya sendiri-sendiri. Iya, soalnya kita bawa sepeda motor masing-masing, dan punya keperluan masing-masing yang berbeda pula. Hmmm, memang susah saat wanita-wanita yang sok karir cari waktu yang pas untuk ngumpul sama-sama.
Idul Fitri sebentar lagi. THR sudah dibagi-bagi. Tapi saya males ah ngomongin THR melulu. Kasian perusahaan-perusahaan yang tersindir, yang tak sanggup membayar karyawannya dengan THR yang layak. Kasian pula beberapa karyawan yang meringis bingung dengan nominal THR yang seakan sedang puasa satu bulan *HEH! Katanya ga mau ngomongin THR, ya udah jangan disinggung!*. Oke, deh oke. Mari bicara tentang hal lain, dan kalau bisa jangan tentang mati lampu lagi. Yang itu juga sudah bosen. Kasian PLN, Perusahaan Negara yang barangkali juga butuh menjadi manusia, punya rasa punya hati, lelah tiap hari dicaci dan dimaki.Berkah dan rahmat Allah begitu banyak turun di Ramadhan setiap tahun. Rasanya semua orang setuju bahwa Tunjangan Hari Raya atau THR adalah salah satu berkah Ramadhan yang tak terelakkan. THR dari atasan, meskipun tak sebanding dengan THR berupa hidayah dan rahmat dari Allah SWT, tetaplah bisa melenakan dan membuat sebagian orang pusing dan bingung. THR-nya mau diposkan di mana ya?
Pusing, karena seakan rob Bill to pay Paul. Gali lubang tutup lubang. Uang THR-nya habis untuk bayar hutang. Sedangkan kebutuhan lebaran *baik yang sangat penting sampai yang tidak penting* belum sempat dijamahkan dengan uang THR. Jadi gimana nih? Ya begitu lagi, rob Bill to pay Paul. Sedih. Tunggu gajian bulan depan lagi baru bisa hutangnya lunas.
Bingung, karena rumah belum di cat. Jendela dan pintu harus segera diganti. Karpet umurnya udah menahun banget. Belum lagi pagar depan yang mulai berkarat. Waduuuh, yang mana duluan ya? Dinding ruang tamu juga sudah mulai mengelupas cat dasarnya. Belum tentu nih THR-nya cukup.
Pusing lagi, anak ada 3, semuanya minta baju baru dan sepatu baru. Istri ada 1. Walaupun satu-satunya, tapi minta budget buat panganan untuk lebaran nanti, lebih dari 1 jenis. *Kasian banget si suami ya?*. Aaaargh, ga usah dapat THR aja supaya ga pusing!
Ya ampuuun. Apa ada ya kepusingan dan kebingungan seperti itu terjadi di dunia nyata tanpa saya pernah melihat langsung kejadian sebenarnya?
Ya udah deh. Daripada pusing mikirin THR, lebih baik untuk semua yang sudah dapat THR, ayo segera sedekahkan 2,5% untuk yang berhak. Sesudah memberi kepada yang berhak, maka poskanlah dengan tenang dan tidak terburu-buru. Hati-hati, THR bisa menjadi sumber bencana jika kita tidak bijak menyikapinya! *Blebh, kayak kampanye apaan gitu ya hehe*
Bulan Ramadhan disambut dengan penuh sukacita. Karena Ramadhan mengandung banyak keistimewaan dari Allah. Keistimewaan malam tarawihnya sudah pernah saya singgung di blog ini. Pun barangkali, keistimewaan lain tentang bulan Ramadhan sudah seringkali disinggung di forum-forum lain sehingga saya rasa tak perlu lagi saya paparkan secara merinci tentang istimewanya dan ajaibnya bulan Ramadhan.Namun, perbolehkanlah saya singgung satu hal yang tak boleh dilupakan dan tak akan dilupakan semua karyawan di setiap pertengahan bulan Ramadhan. Tiga kata indah berjudul THR, Tunjangan Hari Raya. Tapi, mengapa judul di atas menjadi Tanggungan Hidup Rakyat? Mari kita bahas, yuk...
Berawal dari tanda tangan
Seorang teman, bekerja di lembaga yang sama dengan saya, belum genap 3 bulan, mendapatkan nominal yang sama untuk ’uang jajan’ dengan nominal yang saya dapatkan. Seakan saya ini adalah seorang hamba Allah dan karyawan suatu lembaga yang tidak pandai bersyukur, namun rasanya patutlah saya sedikit kecewa dengan ’keadilan’ yang terjadi dalam ’lembaga menyenangkan’ tempat saya bekerja. Apakah saya akan menganiaya pikiran saya sendiri jika saya berpikir bahwa pemilik ’lembaga menyenangkan’ tersebut menganiaya saya (lagi)? Kata orang-orang, kita harus bersyukur. Dizholimi terus-terusan juga bersyukurlah, dan berdoalah maka doa Insya Allah terkabul. Apalagi di bulan penuh berkah ini.
Nah, maka bertanya-tanyalah saya dalam hati dan kepala. Apakah nominal ’uang jajan’ tersebut didasarkan pada tanggungan hidup rakyat sehingga diberi nama ’Uang Jajan’ bukan THR? Atau masih belum siap berjalan sebagai sebuah lembaga sehingga tidak bisa memunculkan THR yang sungguh-sungguh Tunjangan Hari Raya atas dasar pertimbangan Tanggungan Hidup Rakyat yang semuanya belum menikah dan belum akan menafkahi anak istri serta diri? Rasanya sih seperti itu. Karena kalau dilihat-lihat, saya dan semua teman disamaratakan tanpa dipandang status panjangnya jangka kerja di ’lembaga menyenangkan’ tersebut. Lagi-lagi, saya yang merasa dizholimi ya?
Tapi sudahlah. Kenapa jadi tidak bersyukur begini? Lagipula bukan itu fokus Tanggungan Hidup Rakyat saya di tulisan kali ini. Ada hal lain yang lebih menarik lagi untuk dibahas, masih tentang THR, Tunjangan Hari Raya yang menyenangkan dari lembaga-lembaga lain yang jauh lebih menyenangkan dan menjanjikan. Tidak di halaman ini. Ayo pindah ke halaman baru.

I read aloud my poem in front of the rest of the class in today poetry class. I wrote it this dawn, about
Pray, I do the prayer.
I say the pray every single night, every single day to You, my Lord.
The first thing to hope from You is making me as a thankful sleeve.
A thankful woman to be able in expressing this gratitude.
That You’ve given me such a nice thing names family.
That You’ve given me a priceless thing names friendship.
That You’ve given me so much responsibility.
Then You gather them into one and let them in me to keep.
Sometimes I can’t set myself to be humble
I state my wishes but I gabble
Eventhough understanding my heart You are able
However, I shouldn’t make my pray as a gamble
I was ignorant, and am!
Please, slap me God. I deserve for it.
Spread me out from this world just gimme a bit.
I still need to be thankful. That is my aim.
No applause, tough. Just a bit ‘ehem’ from some friends before reading my poem aloud. Anyway, the poem above is really pure from me, about myself, absolutely me, not whoever.
Berorganisasi di kampus memang begitu menyenangkan. Mahasiswa yang tidak berorganisasi atau sekedar kuliah saja dianggap tidak memanfaatkan ’masa emas’ mereka. Setuju, saya sangat setuju. Saya sendiri berorganisasi dengan sangat bahagia di kampus tercinta. Organisasi membuka jalan pikiran kita. Organisasi membimbing mahasiswa menjadi lebih kritis di kelas, namun tetap beretika. Organisasi menjadi jalan tempat mahasiswa beraspirasi saat ada hal-hal janggal terjadi di kampus. Nyaris, organisasi menjembatani segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan ’dunia atas’ (baca: jurusan, fakultas, maupun universitas). Bahkan, organisasi pula lah yang menjadi media awal diletakkannya aspirasi rakyat kecil menjadi sebuah konsiderasi yang layak dipertimbangkan.Di dalam sebuah organisasi, sejauh yang saya jalani, saya mengenal apa yang disebut sebagai Ketua atau Direktur, Sekretaris, Bendahara, beberapa Manager Divisi dan staff divisi tersebut. Di organisasi yang lebih tinggi lagi, seperti BEM, saya mengenal Presiden, Wakil Presiden, Sekretaris Kabinet, dan jabatan-jabatan lain yang tak berani saya sebutkan di sini.
Saya yakin bahwa semua organisasi kampus di seluruh Indonesia, bahkan seluruh dunia, pasti memiliki visi dan misi. Organisasi yang baik, menurut senior saya ketika upgrading pengurus organisasi himpunan kampus, harus memiliki tujuan yang jelas. Harus ada visi dan misi yang satu. Visi dan misi yang menyatukan persepsi dari kepala-kepala berbeda. Visi dan misi yang dapat mengembangkan organisasi kampus, bukan menumbangkan!
Sayang sekali, tragis barangkali ketika menemukan sebuah organisasi malah hampir tumbang akibat terlalu mengedepankan ’prinsip kekeluargaan’ di dalamnya. Kata ’kekeluargaan’ mengingatkan saya pada pelajaran kelas 2 SMP, tentang Koperasi. Koperasi artinya terbukanya akses dan kesempatan anggotanya untuk meminjam uang dengan jumlah tertentu, dengan aturan yang jelas, dengan deadline yang dapat dipertanggung jawabkan. Itu KOPERASI. Namun jika organisasi? Apakah ’kekeluargaan’ yang diusung mewakili hati beberapa anggota untuk meng’koperasi’kannya?
Sangat bagus sekali jika kalimat ’dengan aturan yang jelas’ dan ’dengan deadline yang dapat dipertanggung jawabkan’ versi Koperasi bisa dipatuhi. Yeah, harapan tinggallah harapan ya barangkali? Benar-benar hanya harapan. Tema kekeluargaan yang bisa dikedepankan sebagai ’dalil’ untuk memunculkan sense of belonging antar anggota malah dijadikan ’dalih’ untuk hal lainnya. Saya sungguh bingung! Dan tentu saja sedih.
Kekeluargaan dalam berorganisasi itu perlu. Bahkan, seperti yang saya singgung, tema kekeluargaan bisa memicu munculnya sense of belonging bagi pengurus organisasi. Bayangkanlah sebuah organisasi yang sudah seperti keluarga sendiri. Hangat dan aman di dalamnya. Menyenangkan dan tidak ingin keluar darinya. Namun, kekeluargaan yang setengah-setengah dan sekedar menaruh idealisme untuk kepentingan sendiri rasanya tidak pantas ditempatkan di organisasi yang ingin dimajukan *katanya*. Haruslah benar-benar kekeluargaan yang fair untuk diimplementasikan dalam organisasi. Bukan kekeluargaan dalam moment tertentu saja. Omong kosong!
Saya berharap penuh untuk putusnya mata rantai otorisasi dari pihak yang tak bisa menyatu secara hati dan aspirasi. Carilah titik tengahnya. Berikan kesempatan untuk bersama menyampaikan apa yang ingin dicapai. Dengan hati yang lapang, bukan dengan emosi.