dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Thursday, 6 September 2007

Spirit Award

Today is the day full of signature here and there. Bit spirits come into my soul when teaching. After signing a smile as my own signature characteristic :) on this paper and that paper, I feel that I am valuable as human being ahah.

Lots of spirits also come into my soul when I went back to my campus this morning. Finally, after having no class for about 3 month, gosh what a boring day without assignment *am I too much stating this?* I felt again the beauty of studying, the art of being a very diligent and nice student. I love to be taught. I love to feel that I am taught. I love swallowing a brief explanation, long one as well, I also love. I like copying what my lecturer is saying, then make my own conclusion at the end of the meeting eventhough my lecturer doesn’t ask me to do and doesn’t ask me to tell. I keep it for myself, at least.

So much spirits also come deeply into my soul when my beloved best friend *finally, I get bestfriends –in big S— again after few days ago I felt that I was left* challenged me to memorize the Holy Quran the 30th Juz. I was a bit surprise listening her stated it. But I just didn’t know what kind of spirits came straight into my mind, soul, I dare the challenge! I’m just sure that I tend to love accepting that challenge. I’m sure that I am not gonna be tortured. What a shame thinking memorizing the Holy Quran as a torture!

Motivated, motivated, and motivated. That’s what I am feeling now. I asked one of my ‘akhwat’ students also to dare this challenge, and she did. I just don’t know what will be the consequence when I can’t memorize the surah well. Now, what I need is real good surroundings, positive environment to influence me doing positive things. Is it one of the things that I called as REALISTIC? Are they ones who are realistic? I hope so. I couldn’t deny this for whatever reasons, I guess.

Well, besides motivated by those things, today most of my students also motivated me. They were motivated by me as well. I am also proud of my English Study Club members. They have great intention to be the winner. They couldn’t take something for granted when realizing something wrong happened. They were aware, realizing it and they know what to do! They dare to ‘shame’ themselves to move up and step their ability forward more and more. I do love my students, today! They are my motivation to STAY!

Then tonight, for I don’t know how many times, I promise myself to be better than before. Alhtough I don’t know which people can measure and control quality of mine being better, I still keep promising myself to be better, to make my dream in my birthday come true!

Tuesday, 4 September 2007

Perokok BODOH


Just opened some inbox in phone *my brother’s, not my boyfriend’s since I still HAVE NO boyfriend yet*, then found an SMS:


‘CERITA ROKOK’
Pada suatu hari aku diculik oleh penjahat yang namanya SURYA, setelah itu aku dibawa ke GUDANG GARAM, di gudang aku di tusuk dengan DJARUM SUPER dan aku dilumuri dengan cat BLACK, lalu aku dibawanya ke L A. Tiba-tiba aku diselamatkan oleh 3 orang, yaitu DJI, SAM, SOE pada saat itulah aku menjadi SAMPOERNA.
Then, just now, friends of mine sent me a similar-sound story which he called it as a ‘fairy taile’:

‘KISAH KERAJAAN ROKOK’
Ada seorang raja bernama ARDATH mempunyai putra bernama L.A suatu pagi ketika sang SURYA muncul pangeran diculik oleh 3 prajurit bernama DJI, SAM, SOE. Dia disekap di GUDANG GARAM dipukul dengan CAKRA dan dihajar sampai BENTOL BIRU kemudian diselamatkan oleh MARLBORO dibawa ke rumah sakit d… *sometextmissing* (since no credit anymore, I guessed).
Well, from both of the story, the last one I replied in Bahasa. Dan rasanya, dini hari ini *sejak menulis tulisan tentang SMS barusan, saya belum pejamkan mata* pun saya akan berbahasa Indonesia lagi. Bahasa Inggrisnya nanti saja, disimpan untuk beberapa mata kuliah yang sudah sangat saya rindukan setelah berbulan-bulan liburan tidak menjadi mahasiswa. *dan saya cenderung gunakan bahasa Inggris ketika akan bernostalgila dan ungkapkan apa yang tidak mau saya ungkapkan dengan bahasa Indonesia*

Sangat tertarik membahas tentang rokok, serta beberapa merek rokok yang dengan gratis tanpa komersil beriklan di blog saya ini. Patut diacungi jempol sebenarnya, melihat kreativitas orang-orang yang merangkai merek-merek *benarkah namanya ‘merek’?* rokok menjadi sebuah cerita begitu. Sama seperti saat menjelang Idul Fitri atau Ramadhan, *hm, sudah tinggal 9 hari lagi loh* ada pula yang merangkai judul operator selular menjadi cerita atau sekedar rangkaian kalimat sehingga menjadi ucapan unik.

Bukanlah sesuatu yang bisa kita anggap enteng setelah membaca atau mendengar barisan kalimat semacam itu tersusun rapi menjadi rangkaian cerita. Disitulah otak manusia sedang bekerja, lexically berusaha mencari kata berikutnya yang cocok untuk ditaruh setelah kata sebelumnya agar menjadi kalimat yang rapi. Dan saya tidak cukup ahli untuk menjelaskan bagaimana manusia bisa menyusun kalimat menjadi rapi. Bisa dapatkan di ilmu Psycholinguistic kalo ga salah. Serta bukan itu pula tema besar kali ini. *Lain kali, jika saya sudah cukup kompeten untuk bahas tentang bagaimana manusia menyusun kalimat, saya janji saya akan publish di media yang tepat dan ‘menghasilkan’*.

Oke, mari kembali ke ‘Cerita-Cerita tentang Rokok’. Begitu saya membuka inbox di handphone adik saya dan membaca pesan singkat yang tidak singkat dari seorang teman tentang cerita tadi, yang terlintas pertama kali dalam pikiran saya adalah orang sedang merokok, sehari 12 batang, bibirnya hitam, paru-parunya hampir rusak, dan asap rokok yang menyebalkan, paling saya benci. Entah sudah berapa kali dan sudah berapa orang saya tanyakan, “Apa sih enaknya ngerokok”? dan ga ada satu orang pun yang bisa memberikan jawaban MEMUASKAN pada saya. Bukannya jawaban memuaskan, malah jawaban MEMUAKKAN!

Berhenti merokok, ga mungkin bisa kata mereka. Mulai dari mulut terasa pahit, kebiasaan yang memang ga bisa dihentikan, sampai alasan klasik seperti ditawari teman merokok sudah seringkali saya dengar. Lah, lantas Ramadhan nanti gimana? Toh bisa hidup tanpa rokok. Saya sangat tidak percaya jika ada orang yang bilang “TIDAK MUNGKIN BISA BERHENTI MEROKOK”. Saya punya bukti orang yang berhasil berhenti merokok. Ini bukan self-evidence. Ini fakta!

Percaya ngga percaya, Desta Club 80’s sudah 4 tahun berhenti merokok. Saya tau ketika Desta jadi bintang tamu di Empat Mata *ada gunanya juga ternyata nonton acara itu*. Jadi, kalo misalnya teman-teman tidak percaya, boleh deh tanya sama Empat Mata Mania yang lainnya. *eh, saya bukan Mania loh ya! Kebetulan nonton aja waktu itu*. Nah, itu Desta bisa.

Kalo boleh membawa self-evidence, saya contohkan satu orang lagi, yaitu tante saya *yang sempat saya singgung ga bisa masak di edisi WANITA HARUS BISA MASAK!*. Dulunya, dia perokok, cukup berat. Saya bisa lihat di kamarnya, sebelum dia menikah, bungkus rokok bekas dia merokok berjejer rapi, dan saya juga bisa mencium sisa aroma rokok yang tersisa di toilet dan dikamar saat dia sembunyi-sembunyi merokok. Sekarang, sudah berhenti merokok, tidak pernah lagi produksi kepulan asap sana sini.

Saya paham, bahwa di dalam batang rokok yang kecil dan dianggap nikmat tapi mematikan itu terkandung zat yang bisa membuat orang kecanduan. Tapi, bicara kecanduan, bukankah nge-drugs juga bikin candu? Kenapa ada sangat banyak orang untuk saya ajukan sebagai VERY STRONG EVIDENCE yang bisa berhenti mencandu dari drugs? Kenapa merokok saja tidak bisa?

Ngedrugs bahkan bisa bikin orang jadi gila, tah? Bisa bikin orang kehilangan nyawa kalo udah candu. Nah, drugs yang separah itu saja candunya bisa juga orang-orang berhenti. Personil Slank yang imagenya *dulu* sangat drugs, sekarang malah promo anti-narkoba sebagai keseriusan mereka berhenti ngobat. Beberapa teman saya pun sudah dinyatakan bebas dan bersih dari drugs. Lalu, kenapa merokok yang seharusnya (dan nyatanya) tidak lebih bahaya *benarkah rokok tidak lebih bahaya?* dari drugs saja tidak bisa?

Saya pun yakin, teman-teman perokok yang sedang membaca tulisan saya ini sudah cukup cerdas untuk mendengar dan membaca, bahkan di pack rokok itu sendiri, tentang bahaya yang muncul akibat merokok. Tentang rokok yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan semacamnya, yang mungkin sudah bosan didengar. Maka, saya beranggapan bahwa mereka yang masih sangat candu merokok, menyatakan diri tidak bisa hidup tanpa rokok, menghabiskan sebagian besar penghasilan bulanan untuk ‘belanja’ rokok adalah orang-orang TIDAK CERDAS yang TIDAK SAYANG dengan kesehatan diri sendiri. Kalau sudah begitu, bagaimana mau sayang sama yang lain? Sama diri sendiri aja ga sayang. *Hmmm, saya juga kayaknya masih belum sayang sama diri sendiri pagi ini. Sudah setengah 2, belum juga tidur hehe. Pantesan jomblo hehe, ga ada hubungannya sama rokok!*.

Oke, berhubung saya sudah mulai menyayangi diri saya sendiri (baca: capek) dan masih ingin bangun segar plus sehat di pagi yang cerah nanti, saya simpulkan bahwa:

PECANDU ROKOK = PEMBUNUH DIRI SENDIRI.

Sosial, kesehatan, masyarakat, budaya, bangsa, dan negara. Pecandu rokok berarti pelan-pelan membunuh, minimal membunuh diri sendiri.

diSMSi WANITA LAIN


Bagaimana jika pacar kamu dikirimi SMS sama wanita lain? Atau oleh pria lain *bagi yang pacarnya berupa makhluk bernama Hawa*

Topik menarik untuk dibahas, tah? Walaupun sebagian pembaca blog saya ini, saya yakini tidak menganut paham ’punya pacar’ dan sangat mengagungkan pacaran indah setelah menikah, anyway saya tertarik untuk kasi sedikit opini tentang ’PACARMU DI-SMS-I WANITA LAIN’ *dalam konteks saya yang sedang tidak punya pacar. Aaargh, kapanku punya pacaaaar... kapanku punya pacaaaar (ayo kita nyanyi lagu Seurieus sama-sama)*

Nah, bagaimana jika pacar saya dikirimi SMS sama wanita lain? Yang saya garis bawahi adalah kata jika. Ini menunjukkan pacar saya tidak sedang dikirimi SMS sama wanita lain, atau saya sedang tidak punya pacar. Fakta yang terjadi dan sangat undeniable adalah saya sekarang tidak punya pacar. Maka, pertanyaan di atas jika kita terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, harus gunakan Conditional Sentence *hmm, ada gunanya juga saya belajar Bahasa Inggris ya?*, menjadi ”If you your boyfriend is sent SMS by another (the other?) woman, what will you do?” atau menjadi ”What if your boyfriend is sent SMS by another woman?”. Pokoknya begitulah. Jadi, mari kita mulai pengandaian ini. Jawabannya apa, din?

Pertama, saya harus mengondisikan saya yang sedang punya pacar. Pacar yang saya impikan, yang sangat mencintai saya dan sangat saya cintai. Jika saya mencintai pacar saya sungguh-sungguh, maka yang saya lakukan adalah berusaha mengerti dan memahami dia semaksimal mungkin. Berusaha tau apa yang dia inginkan. Menjalankan ’job description’ saya sebagai pacarnya dengan baik. Hmmm, apakah terasa berlebihan? Semoga saja tidak. *maklum, udah lama ga pacaran hehehe*.

Kedua, saya juga harus menempatkan diri sebagai pacar yang sudah diperlakukan dengan layak oleh pacar saya. Artinya, pacar saya juga sudah menjalankan ’job desciption’-nya sebagai pacar yang baik dan saya impikan untuk saya. Mencintai saya, memahami saya, dan hal-hal lain yang tidak akan saya deskripsikan. Intinya, saya juga sudah ’diperlakukan’ selayaknya oleh pacar saya tadi.

Ketiga, saya mengondisikan diri sebagai pacar yang pacar saya itu sedang dikirimi SMS sama wanita lain. Nah, ini dia yang jadi tema besar kali ini. Sudah terkondisi dua hal tadi, bagaimanakah reaksi saya ketika tau pacar saya dikirimi SMS sama wanita lain?

Well, FIRMLY I answered ”IT’S OK!”. Mengapa tidak apa-apa?

See, mari kita lihat ’Wanita Lain’ yang bagaimana yang dimaksud.

Sebenarnya, wanita lain seperti apapun tidak akan jadi masalah untuk saya jika pacar saya dikirimi SMS. Baik itu wanita lain yang berniat menanyakan proyek, menanyakan tugas kampus yang belum selesai, bahkan sekedar wanita lain yang flirting dan iseng ngesmsin pacar saya untuk diajak SMSan. Toh yang diajak SMSan pacar saya, bukan ’milik’ saya tah? Secara wanitawi (maksudnya naluri wanita, gitu hehe), rasa cemburu tentu saja ada. Mau tidak mau, ketika saya sudah berkomitmen dan sudah mendeklarasikan sebuah hubungan sebagai hubungan bernama pacaran serta sudah memiliki tanggal keramat bernama ’tanggal jadian’, akhirnya saya akan merasa ’memiliki’ orang yang menjadi pacar saya itu. Apalagi, dengan sifat saya yang *sempat menjadi sangat* posesif ini. Cemburu kan wajar. Sama sahabat aja saya bisa cemburu. Ya sama pacar masa ga boleh? Masalahnya, dia kan ’hanya’ pacar. Apa sih pacar donk, juga!

Lalu, jika saya tau pacar saya dikirimi SMS sama wanita lain, kemudian secara tidak sengaja saya membaca SMSan yang lupa dihapus, apa tindakan saya? Apakah saya akan mentransformasikan diri menjadi kekanak-kanakan dengan cara mengirimi SMS penuh kata kasar, caci, dan hina kepada wanita lain yang mengSMS pacar saya? Ataukah saya hapus inbox berisi SMS dari wanita lain itu? Jelas tidak. Karena itu berarti menghilangkan bukti otentik!

Sebagai wanita yang sudah beranjak dewasa, serta sempat berada pada posisi ‘wanita lain yang cukup menyebalkan’, dan pernah pula mendapati inbox pacar saya berisi sms dari wanita lain sehingga jika ada lagu ’SMS siapa ini bang’ versi jazz akan saya nyanyikan dihadapan wajahnya, maka tindakan saya adalah: KLARIFIKASI. *Hmmmph, kenapa isi blog saya tiba-tiba jadi berisi masalah remaja gini ya? Emang kedapatan SMS dari wanita lain di inbox pacar itu masalah remaja ya?*

Sebuah klarifikasi yang sebetulnya tidak perlu saya lakukan, saya yakin. Pacar saya kan sayang sama saya. Jadi, palingan dia jawab: temen, rekan kerja, adik kelas, junior ganjen, bla bla bla... deh pokoknya. Belum lagi dengan embel-embel ”Masa kamu ga percaya sama saya. Kalo ga percaya ya udah!”. Nah, saya bisa ngomong apa kalo udah kayak gitu? Lagian, saya yakin, pacar saya tidak akan sebegitu bodohnya untuk lupa menghapus SMS dari wanita lain tersebut jika dia tau saya sebagai pacar yang pasti akan bongkar inbox dan semua rekaman yang terjadi di HP-nya sebelum ketemuan dengan saya.

Mungkin, beberapa penganut ’tidak anti-pacaran’ akan membatin, ”Kamu kan ga punya pacar, din. Sekarang sih bisa ngomong begitu. Buktiin dong kalo kamu udah punya pacar”. Boleh, untuk yang mau nantangin saya dengan batinan seperti itu, saya terima tantangannya. Yakinlah, sampai dengan waktunya nanti saya menikah, saya akan selalu bernyanyi ”Kapanku punya pacaaar... kapanku punya pacaaaar...” hehehe.

Barangkali, sebelum saya menikah, saya belum akan punya pacar. Secaranya baru saja kemarin dikasi wejangan, diingatkan bahwa jodoh ga akan tertukar, bahwa semuanya sudah diatur oleh Allah, mulai dari maut, jodoh, dan rejeki. Yang agak lebih fleksibel adalah rejeki. Tergantung usaha kita menjemput rejeki. Sedangkan masalah jodoh, ga perlu khawatir, ga perlu muter-muter ngelilingin bumi juga Insya Allah dikasi jodoh yang terbaik sama Allah. Pacaran bertahun-tahun juga, kalo bukan itu jodohnya, ya ga bakalan jadi. Jadi intinya, pacaran itu hanya buang-buang tenaga, energi, pikiran, waktu, biaya, dan segala macam hal-hal bermanfaat lain. Kamu gimana, din?

Well, mari kita lihat, akankah saya bertahan untuk tidak membuang-buang tenaga, energi, pikiran, waktu, biaya, dan segala macam hal-hal bermanfaat lain? Seberapa kuat pertahanan saya untuk bernyanyi ”Kapanku punya pacaaar?”. Hari ini saya masih bernyanyi. Let’s see for tomorrow and next, and next, and next.