Hurt, I am standing for myself... Hidden this tears inside... Hurt myself deeply, so much deep inside... Just wonder, whether it's normal or not. I am hurt, and breaking myself away.
Friday, 14 December 2007
Wednesday, 12 December 2007
Orang dan 1 orang
Memiliki beragam jaringan kerja, memiliki variasi karakter sahabat-sahabat tercinta, menghadapi begitu banyak sifat manusia yang berbeda-beda membuat saya luar biasa bahagia.
Tersebutlah, malam ini, seorang murid saya bercerita tentang problem yang saya anggap begitu sederhana, tapi bisa bikin dia pening kepala. Tawa spontan begitu saja lepas setelah dia akhiri obrolan di telepon. Hehe lucu aja mengingat murid saya itu dulunya pernah di cocok-cocokin sama saya, lalu malam ini dia bercerita bahwa dia sebenarnya ga mau jadian sama pacarnya yang juga murid saya. Waduh waduh... saya mau ngelamar jadi guru bimbingan dan konseling merangkap instruktur speaking English deh kalo gitu .
Iya, sejujur-jujurnya bicara, saya lebih senang meletakkan posisi saya sebagai teman bicara untuk murid saya daripada harus berdiri di depan kelas dan menjelaskan pelajaran yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata. Makanya, setiap kali saya berkesempatan mengajar, rasanya belum pernah sekalipun saya benar-benar mengajar yang sekedar menjelaskan materi. Kelas saya malah jadi garing kalau hanya berisi materi. Yeah, jelas ada materi lain yang lebih menarik dan lebih reachable ketika diterapkan langsung di medan perang, bukan di kertas putih bertinta hitam rapi penuh huruf.
Lagipula, sesungguhnya mereka bukanlah murid saya, melainkan teman sebaya yang memang layak dibagikan dan membagikan cerita. Selayaknya sahabat-sahabat saya yang luar biasa, mengingatkan dan diingatkan.
Tersebutlah, malam ini, seorang murid saya bercerita tentang problem yang saya anggap begitu sederhana, tapi bisa bikin dia pening kepala. Tawa spontan begitu saja lepas setelah dia akhiri obrolan di telepon. Hehe lucu aja mengingat murid saya itu dulunya pernah di cocok-cocokin sama saya, lalu malam ini dia bercerita bahwa dia sebenarnya ga mau jadian sama pacarnya yang juga murid saya. Waduh waduh... saya mau ngelamar jadi guru bimbingan dan konseling merangkap instruktur speaking English deh kalo gitu .
Iya, sejujur-jujurnya bicara, saya lebih senang meletakkan posisi saya sebagai teman bicara untuk murid saya daripada harus berdiri di depan kelas dan menjelaskan pelajaran yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata. Makanya, setiap kali saya berkesempatan mengajar, rasanya belum pernah sekalipun saya benar-benar mengajar yang sekedar menjelaskan materi. Kelas saya malah jadi garing kalau hanya berisi materi. Yeah, jelas ada materi lain yang lebih menarik dan lebih reachable ketika diterapkan langsung di medan perang, bukan di kertas putih bertinta hitam rapi penuh huruf.
Lagipula, sesungguhnya mereka bukanlah murid saya, melainkan teman sebaya yang memang layak dibagikan dan membagikan cerita. Selayaknya sahabat-sahabat saya yang luar biasa, mengingatkan dan diingatkan.
Saturday, 1 December 2007
Oh... my xtacy...

Gosh, it is 1st again!
Tidak ada tulisan-tulisan lagi di blog ini ya sepertinya. Anyway, saya ingin kembali bermain dengan kata-kata. Pusing juga lama-lama berdiam diri dan tidak gerak jari. Hari ini, khusus saya curahkan waktu ini untuk bercinta dengan suasana.
Well, belakangan, berita beredar *di infotainment* adalah sibuk bahas tentang artis yang tertangkap gunakan narkoba. Beberapa waktu lalu, Roy Marten resmi dinyatakan tersangka untuk yang kedua kalinya. Tak lama, muncul nama Fariz RM. Ada juga pelawak Gogon, pemain film Gary Iskak dan akhir-akhir ini, Ahmad Albar dan anaknya, Fachri Albar juga ikutan meramaikan warna infotainment dengan berita keterlibatan mereka di narkoba.
Hal menyenangkan yang saya serap dari berita-berita tersebut adalah bahwa pamor mereka sebagai selebritis tidak benar-benar buruk di mata masyarakat. Sebagai bukti, Roy Marten ketika pertama kali dinyatakan bersalah dan terlibat narkoba, tetap diterima kembali dengan senyuman hangat di dunia entertainment. Dia main sinetron lagi. Tidak ada sanksi sosial signifikan yang terasa. Betapa luar biasa masyarakat Indonesia. Saya pun salut dengan kejujuran Roy Marten dan keluarganya yang mau mengakui bahwa dia benar-benar terlibat barang haram itu. Sayang sekali, Roy harus jatuh dua kali. Dan luar biasa lagi, fansnya tak bergeming untuk hilangkan rasa simpati buat Roy Marten. Sebuah kharisma yang luar biasa!

Pagi ini, saya simak berita lagi tentang Ahmad Albar. Teman-teman dekatnya menyatakan kalo Ahmad Albar adalah orang baik yang berjiwa sosial, rela membantu sesama tanpa pandang harta. Ahmad Albar adalah orang yang jauh dari hal-hal negatif. Orang baik-baik deh intinya. Walaupun mengakui bahwa mereka pernah terlibat barang haram narkoba beberapa puluh tahun lalu, tetap saja rasanya menjadi aneh dan mustahil begitu tau Ahmad Albar jatuh lagi ke lubang yang sama. Duh duh, narkoba.
Kadang saya tidak begitu mengerti dan sangat susah untuk memahami bagaimana bisa orang-orang jatuh ke dalam sebuah lubang yang mereka sendiri sudah tau bahwa di dalam lubang itu ada duri. Apakah duri-duri dalam lubang itu rasanya manis ya jadinya pengen masuk lagi?
Yea, saya memang belum pernah rasakan nikmatnya narkoba, atau bahayanya narkoba. Tapi paling tidak, cukuplah saya menjadi ekstasi kehidupan untuk diri saya sendiri. Kalau saya gunakan diri saya terlalu banyak, artinya saya sedang berusaha membunuh diri saya sendiri. Setuju?
Well, belakangan, berita beredar *di infotainment* adalah sibuk bahas tentang artis yang tertangkap gunakan narkoba. Beberapa waktu lalu, Roy Marten resmi dinyatakan tersangka untuk yang kedua kalinya. Tak lama, muncul nama Fariz RM. Ada juga pelawak Gogon, pemain film Gary Iskak dan akhir-akhir ini, Ahmad Albar dan anaknya, Fachri Albar juga ikutan meramaikan warna infotainment dengan berita keterlibatan mereka di narkoba.
Hal menyenangkan yang saya serap dari berita-berita tersebut adalah bahwa pamor mereka sebagai selebritis tidak benar-benar buruk di mata masyarakat. Sebagai bukti, Roy Marten ketika pertama kali dinyatakan bersalah dan terlibat narkoba, tetap diterima kembali dengan senyuman hangat di dunia entertainment. Dia main sinetron lagi. Tidak ada sanksi sosial signifikan yang terasa. Betapa luar biasa masyarakat Indonesia. Saya pun salut dengan kejujuran Roy Marten dan keluarganya yang mau mengakui bahwa dia benar-benar terlibat barang haram itu. Sayang sekali, Roy harus jatuh dua kali. Dan luar biasa lagi, fansnya tak bergeming untuk hilangkan rasa simpati buat Roy Marten. Sebuah kharisma yang luar biasa!

Pagi ini, saya simak berita lagi tentang Ahmad Albar. Teman-teman dekatnya menyatakan kalo Ahmad Albar adalah orang baik yang berjiwa sosial, rela membantu sesama tanpa pandang harta. Ahmad Albar adalah orang yang jauh dari hal-hal negatif. Orang baik-baik deh intinya. Walaupun mengakui bahwa mereka pernah terlibat barang haram narkoba beberapa puluh tahun lalu, tetap saja rasanya menjadi aneh dan mustahil begitu tau Ahmad Albar jatuh lagi ke lubang yang sama. Duh duh, narkoba.
Kadang saya tidak begitu mengerti dan sangat susah untuk memahami bagaimana bisa orang-orang jatuh ke dalam sebuah lubang yang mereka sendiri sudah tau bahwa di dalam lubang itu ada duri. Apakah duri-duri dalam lubang itu rasanya manis ya jadinya pengen masuk lagi?
Yea, saya memang belum pernah rasakan nikmatnya narkoba, atau bahayanya narkoba. Tapi paling tidak, cukuplah saya menjadi ekstasi kehidupan untuk diri saya sendiri. Kalau saya gunakan diri saya terlalu banyak, artinya saya sedang berusaha membunuh diri saya sendiri. Setuju?
Subscribe to:
Posts (Atom)
