dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Monday, 10 August 2009

kirimlah, saya akan kembali

Dengan ini, saya menyatakan kalo saya akan berangkat ke Bandung. Halhal yang berkaitan dengan janjijanji yang akan disampaikan maupun diberikan kepada saya, seperti janji mau bikinin saya sesuatu, janji mau ngirimin saya kado, dan janjijanji lain yang masih tertunda serta diselimuti kalimat: "mungkin lain kali, maybe next time", maupun kalimat: "saya orangnya pelupa", tetap akan selalu tercatat sebagai janji, dan saya nantikan kirimannya ke alamat saya.

Weleh, hubungannya sama saya akan berangkat ke Bandung apa, gituh? Heheheh. Yah, itu artinya dan maksutnya tuh begini loh. Jadi, kalo semisalnya temanteman ngerasa pernah akan ngasih ato berniat memberikan sesuatu sama saya, baik dalam rangka sesuatu maupun dalam rangka cuman mau ngasih aja, ya udah kasih aja walopun mungkin ketika barangnya dikirim, saya sedang tidak berada di tempat. Seminggu ini saya akan meninggalkan Pontianak, meskipun saya mencintai Pontianak. Jadi, kemungkinan, ketika barang dikirim *kok saya pede banget ya kayak bakalan ada yang ngirimin saya sesuatu, gituh :p* saya mungkin sedang tidak di kantor, di rumah, maupun di kamar.


Maka dari itu, mohon pengertiannya. Bukannya apa, dikit lagi udah masuk Ramadhan nih, jadi persiapan harus semakin kencang. Dan meninggalkan kota Pontianak tercinta selama seminggu, barangkali menjadi pilihan oke untuk mengusir duriduri yang masih tertinggal di kepala. Serem kan kepala berduri wekekekek.

Well, well. So, it's gonna be my second visit to Bandung after the previous one was not really satisfying at all. Hopefully this one will replace the previous one, and at least kill my boredom of the dynamical things in my very own beloved city, Pontianak. As somebody told, Pontianak nowaday is not really a good choice to live, even just to stay. Jalanan rusak, air ga jalan, lampu sering padam, dan kabut asap yang bikin sesak.

Baiklah. Mari menghirup udara di tempat lain sejenak, kalau begitu. Rindukan saya ya, karena saya juga sangat merindukanmu, kawan. Trus, doakan saya balik ke Pontianak dalam kondisi semakin mencintai Pontianak juga. Bukannya apa. Saya merasakan bahwa saya rupanya nge-fans sama Mbah Surip dan karyakaryanya setelah beliau meninggal dunia. Artinya, sesuatu terasa berarti saat ia hilang. Saya pengen liat dan rasakan, apakah seminggu cukup membuat saya merasa kehilangan Pontianak?

Mudahmudahan kabut asap tidak menghalangi pandangan tuan pilot.

Thursday, 6 August 2009

Pontianak, riwayatmu kini...

Saya mau ke pantai, di Pontianak ga ada pantai...

Saya mau ke hutan, ah hutannya udah pada kebakar.

Asap, asap dan udara kotor aku benci.

Hingar bingar, duh ribut ga kuat lagi.

Matikan saja lampunya, biar sunyi.

Tapi, Pontianak memang lagi musim mati lampu...

Loh? Apa-apaan? Bukannya Pontianak musim duren?

Aaaargh, dari musim duren sampe musim rambutan, matilampu melulu!!

PDAM juga airnya ga jalan.

Tapi kita sudah diajari untuk tak usah banyak mengeluh.

Nikmati saja asapnya, biar mengaduh sampai gaduh. Uhuk uhuk uhuk.

Gapapa. Allah ridho kok dengan bunyi batukbatuk itu. Anggap saja sebagai penggugur dosa. Ikhlaslah, dan sebentar lagi batuk kita akan sembuh. Oke?

Pontianak, riwayatmu kini.

Sampai kapanpun aku cintai, tanah airku.

Pontianak, tempat ibuku melahirkanku.

Bahkan barangkali juga akan menjadi kota tempatku melahirkan bayibayiku nanti, kecuali kalau... kalau Pontianak berasap terus, aku mau melahirkan di tempat lain saja.

Pontianak, riwayatmu kini. Tak mengubah rasa cintaku padamu.

Air tak mengalir, masih ada Sungai Kapuas.

Merkuri di tepitepi, toh tak mengapa. Airnya masih bisa untuk mandi, mencuci, dan paling tidak dengan sampan kau kami susuri.

Aku mencintaimu, Pontianakku. I love you full.

Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, betapapun riwayatmu kini.

Pontianak, 15 Sya'ban 1430 H.
6 Agustus 2009 M.

Monday, 3 August 2009

Ingin Khusnul Khatimah

Sakit beberapa hari lalu membuat saya sempat terpikir, "Kalo setelah ini saya ga dikasi kesembuhan sama Allah, gimana ya? Amal yaumi saya rasanya masih belum maksimal, bakalan khusnul khatimah ga saya ya?" Ihikz... jadi pengen nangis dan malu sendiri kalo keinget dengan ingatan saya itu.

Anyway, citacita kita semua pasti sama ya, temanteman. Meninggal dalam keadaan baik, atau Khusnul Khatimah atau Akhir yang Baik. Kalau pengen dapet Khusnul Khatimah, artinya ya harus melakukan usaha-usaha untuk Khusnul Khatimah selama kita njejak di dunia. Harus menyempurnakan syahadat, tobat dan mohon ampun, menutup atau mengimbangi dosa dengan amal shaleh, berdoa agar Allah wafatkan dalam keadaan Khusnul Khatimah, dan berbaik sangka pada Allah. Mudahmudahan kita tergolong orangorang yang akan diwafatkan Allah dalam keadaan Khusnul Khatimah, amiin.

Anyway, perihal Khusnul Khatimah ini mengingatkan saya sama Kakek saya yang bulan April lalu meninggal dunia. Walopun saya ga liat mayatnya dari sejak pertama beliau wafat, tapi saya yakin kakek saya meninggal Khusnul Khatimah karena beberapa tanda atau ciri ketika beliau meninggal menunjukkan itu.

Ciri-ciri Khusnul Khatimah itu, menurut Ustadz Abdul Wahid Alqi, Lc, MA *yang waktu itu adalah Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia* di Majalah Alia bulan November 2007, ada 7 point:

1. Mudah mengucap kalimat-kalimat yang mengingat Allah Ta'ala seperti mengucap syahadat dan sebagainya ketika sakaratul maut.

2. Keluar peluh atau butiran-butiran keringat di dahi. Sebab tempat ini merupakan jalan akhir berpisahnya ruh dengan jasad.

3. Mati pada hari Jum'at.

4. Mati dalam perang membela agama Allah Ta'ala (Jihad).

5. Mati dalam keadaan baik di tempat-tempat yang baik.

6. Mati ketika sedang melakukan ibadah atau sedang beramal salih.

7. Bibir tersenyum dan bola mata terbuka mengikuti perginya ruh dari jasad kita. Maka dari itu, jika melihat hal seperti itu kita disunnahkan untuk segera menutup kelopak matanya.

Ini contoh foto orang yang wafat ketika sujud di dalam shalat:

Photo is from: elkaff

Mau? Sama dong kalo gitu. Saya juga mau Khusnul Khatimah. Sekali lagi, mudahmudahan kita digolongkan Allah sebagai hambaNya yang meninggal dunia dalam keadaan Khusnul Khatimah, tidak sedang di hotel manapun trus ikut jadi korban ledakan bom. Na'udzubillahimindzalik. Semoga kita Khusnul Khatimah, trus masuk Syurga di akhirat nanti, amiin.