dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Friday, 14 January 2011

Kenapa 'Jangan Marah'?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya salah seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

أوصنى قال : لا تغضب فردد مراراً قال لا تغضب .رواه البخارى

" Berilah wasiat kepadaku" Nabi bersabda:'Jangan marah.' Maka beliau mengulang berkali-kali: 'Jangan marah.'"(HR. al-Bukhari rahimahullah)

Terbukti secara ilmiah bahwa kemarahan sebagai salah satu bentuk emosi kejiwaan, memiliki pengaruh yang besar pada jantung orang yang marah. Dan reaksi dari kemarahan itu membuat jumlah detak jantung meningkat berkali lipat dalam satu menit. Maka dengan hal itu meningkatlah jumlah darah yang dipompa oleh jantung atau yang keluar dari jantung menuju pembuluh-pembuluh darah. Dengan demikian semakin terbebani karena dia dipaksa untuk meningkatkan pekerjaannya melebihi batasan yang telah menjadi kebiasaannya, atau pada kondisi kondisi tertentu. Hanya saja pembebanan terhadap kerja jantung yang disebabkan karena lari tidak akan berlangsung lama, karena seseorang bisa menghentikan larinya kalau dia mau, adapun pembebanan jantung yang disebabkan karena marah, maka seseorang tidak mampu mengontrol dirinya apabila sedang marah, lebih-lebih kalau dia sudah terbiasa marah dan sifat tersebut sudah bercokol kokoh dalam dirinya.

Dan telah terbukti bahwa orang-orang yang terbiasa marah, dia akan terkena tekanan darah tinggi dan neraca darah yang dibutuhkan naik melebihi kebutuhan normal, yang mana jantungnya dipaksa untuk memompa darah yang lebih banyak melebihi kebutuhan, sebagaimana urat nadi yang sangat halus akan mengeras dinding-dindingnya, dan hilang fleksibilitasnya dan kemampuannya untuk melebar supaya mampu untuk memudahkan mengalirnya darah dalam jumlah besar tersebut yang keluar dari jantungnya orang yang emosi.

Oleh karena itu, ketika seseorang marah tekanan darahnya akan naik, ini berbeda dengan dampak psikologi dan sosial yang ditimbulkan karena kemarahan dalam hubungan antar manusia dan yang terpisah dari ikatan-ikatan antar manusia. Dan yang penting untuk diebutkan di sini adalah bahwa para ilmuwan dahulu meyakini bahwa kemarahan yang jelas/terang-terangan tidak berbahaya, dan hanya kemarahan yang terpendam saja yang berpotrnsi menimbulkan banyak penyakit. Akan tetapi penelitaian Amerika baru-baru ini menyuguhkan penafsiran baru tentang dampak kedua jenis kemarahan ini, yang kesimpulannya bahwa terpendam atau tidak sebuah kemarahan tetap akan mendatangkan bahay bagi kesehatan, walaupun berbeda tibgkatannya. Adapaun dalam keadaan marah yang terpendam apabila dilakukan berulang-ulang maka kemungkinan akan menimbulkan tekanan darah tinggi, dan terkadang bisa menyebabkan kanker. Adapun kemarahan yang terang-terangan dan diulang-ulang, maka hal itu mungkin akan membahayakan pembuluh-pembuluh darah jantung, dan penyakit-penyakit lain yang berkaitan dengan jantung. Wallahu Ta'ala A'lam.

copy dari: AlSofwah

Wednesday, 12 January 2011

Undangan pernikahan saya

Wah, sepertinya antusias betul ya begitu baca judul postingan saya kali ini hehe. Well, it's not yet the time to do press release of my wedding officially. Saya hanya pengen berbagi kisah, betapa ribetnya walimah masa kini.


Sebetulnya, ini adalah postingan di blog saya di era 2009, tepatnya tulisan yang saya publish pada 7 Desember 2009. Jika berkenan, silahkan membaca :)


Nah, yang saya kasih bold dan underline adalah undangan. Akan saya paparkan di bagian ini saja, yang memang belakangan sedang membuat saya cukup pusing.


Sungguh luar biasa pusing saat harus berbagi jatah undangan dengan orang tua *yang terdiri dari Bapak dan Ibu*, dan Bapak serta Ibu saya adalah 2 macam orang tua yang temennya buanyak. Yang kalo anaknya nikah trus ga diundang, maka orang akan memberi teguran: "Teganya ga ngundang2".


Maka, dibuatlah list orang-orang yang akan diundang. Bapak saya sekian ratus, Ibu saya sekian ratus, saya sekian ratus, dia sekian ratus, keluarga kami sekian ratus. Oh yeah.


Ya, begitulah temanteman. Semoga temanteman yang bersedia membaca tulisan ini paham maksud dan tujuan saya merilis tulisan ini.


Masa belum paham? Oh baiklah. Saya merilis tulisan ini supaya teman-teman bersedia diundangan via facebook hehehe. Bagi saya, di era digital ini, undangan via facebook untuk beberapa teman dekat di dunia maya *apalagi yang bersedia baca tulisan saya sampai selesai* sama sekali tidak mengurangi makna pertemanan kita, tak kalah terhormatnya dengan yang diundang dengan kartu undangan *yang bagi beberapa orang, kartu undangan itu toh akhirnya berakhir di keranjang sampah, kecuali kalo hobi koleksi kartu undangan atau kalau design undangan saya cukup oke untuk disimpan hehe*.


Gitu deh temeeeen. Makasih thanks a bunch syukron jazakumullah ya sudah bersedia membaca dan memahami maksud saya :D

Tuesday, 4 January 2011

Masa Lalu

Terlalu klasik jika saya harus menuliskan: "Semua orang punya masa lalu". Karena kalimat itu adalah kalimat truistic. Siapa di dunia ini yang tak punya masa lalu? Entah masa lalu berwarna cerah ceria, atau masa lalu suram legam sekelam hitam.

Pun terlalu berteletele jika saya pun harus menjabarkan panjang lebar, bahwa dari masa lalu-lah maka kita bisa belajar sejarah, bisa belajar Simple Past Tense, atau Bung Karno bisa dengan lantang berkata JAS MERAH. Jangan pernah melupakan sejarah. Ya, sejarah adalah bagian dari masa lalu kan?

Maka, jika ada bagian dari kisah masa lalu kita yang meresap hingga ke urat nadi, menembus jantung hati, bahkan hingga ke pori-pori, ingatlah pelajarannya saja. Ambil hikmahnya dengan bijaksana. Tapi jika masa lalu itu membuat kita sampai menutup akses silaturrahim untuk orang atau orang-orang yang pernah terlibat dalam masa lalu kita, apalagi sampai membenci, maka marilah kita istighfar. Bukannya masa lalu tak bisa dihapuskan dari catatan sejarah? Masa lalu adalah fakta, sekaligus realita. Sekali lagi, marilah istighfar. Bukankah Allah menyukai hambaNya yang bertaubat?