dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Thursday, 21 June 2012

Tinggal Sukanya saja..

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan kemaren.



Baeklah. Sesuai janji saya, duka-duka yang telah saya tuliskan kemarin, akan saya konversi menjadi suka, ditambah dengan suka-suka lainnya :D

  • Belum banyak tempat yang bisa saya jadikan opsi untuk refreshing dan jalan-jalan di kala penat seharian di rumah. 
Alhamdulillaah saya dikaruniai suami yang cukup kreatif membunuh rasa bosan. Dimanjakan suami setiap hari sudah sangat membantu meruntuhkan tembok kebosanan *halah ;p
  • Living cost yang relatif mahal. 
Poin ini malah membuat saya dan suami semakin merasakan melimpahnya rezeki dari Allah Rabbi Izzati. Walaupun suami saya bukanlah pengusaha besar, dan saya juga bukan wanita karir yang sebulannya punya penghasilan banyak, Alhamdulillah setiap hari selalu saja ada rezeki tak terduga. Benarlah janji Allah dalam AlQur'an surah An Nur ayat 32 :)
  • Diperlukan waktu sekitar 7 jam untuk mencapai Kota Pontianak, dengan kondisi jalan yang 'amat sangat mulus'. 
Tidak semua orang sanggup melewati 'indahnya' jalanan sepanjang Sekadau-Sanggau. Beberapa orang keluarga dan kerabat nyaris selalu mengeluh teler tiap kali menempuh perjalanan Pontianak - Sekadau. Saya dan suami telah teruji dan terbukti sanggup berkalikali bolak balik Sekadau - Pontianak - Sekadau dalam setahun belakangan. Itu artinya, Allah karuniakan fisik yang kuat untuk saya :D
  • Menu kulinernya belum komplit. 
Akibat tak ada yang jual menu-menu tersebut di atas, saya jadi terpaksa mencari tau resepnya, dan dengan nekat bereksperimen membuat sendiri. And the taste was not bad  *winkwink*. Sampai disarankan buka lapak kuliner segala. Sayanya aja yang ga betah hahaha.
  • Berdebu teramat sangat. 
Debu-debu dan jejeran truck tersebut menghasilkan sebuah tindakan berupa: "Malas keluar rumah" sehingga saya menjadi agak sedikit lebih putih alami tanpa cream pemutih Syahrini. Xixixi. Yaah, paling tidak lebih putih daripada suami saya deh :p
  • Agak ribut. Ini karena setiap hari selalu ada bunyi nyaring house music pengiring senam aerobic dari pintu ruko tetangga.
Bagian yang 1 ini cukup meresahkan telinga saya karena saya tidak terbiasa dengan house music. Anyway, paling tidak ada 1 yang bisa membuat saya bersyukur: Bahwa saya masih diberikan pendengaran oleh Allah.
  • Susah mencari pulsa untuk 2 nomor operator yang saya pakai sejak di Pontianak: Axis dan XL.
Urusan pulsa-pulsaan adalah salah 1 faktor yang membuat saya amat sangat bersyukur punya bapak yang oke dokeh dan pengertian seperti bapak saya hehehe. Ah, ngerti sendiri laah kamsudnya yes ;p



Kesukaan lainnya dari berdomisili di Kabupaten Sekadau adalah:
  1. Tinggal berdua dengan suami. Yang paling utama, tidak LDR dan bisa bertemu sepanjang waktu *kecuali ketika salah satu dari kami sedang ada agenda dakwah di luar Sekadau*.
  2. Bebas macet 24 jam.
  3. Angka kriminal rendah. Yaah, at least, tidak sekejam kriminal di ibu kota yang nyaris setiap hari adaaaa aja beritanya.
  4. Kemana-mana cepat dan dekat, karena Sekadau kan kecil hahaha.
  5. Kanan kiri depan belakang terdiri dari: Kanan: Travel SAF *travel langganan tiap mau ke Pontianak*. Kiri: RM Ivan yang menyediakan makanan Lamongan *jadi kalo sedang blank mau makan apa, tinggal pesan ke sebelah*. Depan: Hotel dan Swalayan Mitra Pelangi. Sangat membantu jika adik saya menginap di sini, ga perlu pinjemin motor buat dia jajan hehe. Belakang: Jalan tembus menuju Pasar Sekadau.
  6. Dan berbagai kesukaan lain yang bisa bikin postingan ini jadi lebih panjang kalo saya tuliskan semua :p

Nah teman-teman, dari cerita suka-suka *ya suka-suka, bukan lagi suka-duka :D* ini, kita sepakat ya harus bertindak bagaimana? Karena, as this pink pic stated:


Begitulah. Di manapun dan bagaimanapun, kita-lah yang pilih, mau seperti apa kita menyikapi hidup yang telah Allah anugerahkan pada kita :)

Wednesday, 20 June 2012

Suka Duka tinggal di Sekadau


Halaman Depan. 

Saya tidak ingat tanggal berapa saya resmi pindah ke Kabupaten Sekadau. Yang saya ingat, saya pindah ke kota kecil nan berdebu ini sekitar 2 pekan setelah resmi menjadi istri. Hal lain yang saya ingat dari perpindahan tersebut adalah kemellowan saya yang teramat sangat hingga saya bisa menangis lagi bilamana harus mengingat dan membaca kembali tulisan tentang Air Mata Bapak :')

Banyak kisah dan cerita yang terangkai setelah saya tinggal di kota kelahiran kakeknya suami saya ini. Sebagian pernah saya tuliskan di blog ini, dan lebih banyak yang berlalu begitu saja, tapi terpatri dalam memori. Hampir setahun setengah saya berdomisili di Kabupaten Sekadau, ada banyak suka duka yang saya rasakan. Dimulai dari dukanya aja deh ya.

Danbo di area Kantor Bupati Sekadau

Sekadau adalah Kabupaten yang masih terbilang baru, walau saya tak tau kapan tepatnya Sekadau 'memisahkan diri' dari Kabupaten Sanggau. Apa duka dari tinggal di Kabupaten baru? 

  • DUKANYA:
  1. Belum banyak tempat yang bisa saya jadikan opsi untuk refreshing dan jalan-jalan di kala penat seharian di rumah. Ada 2 tempat outdor yang bisa dipilih: Taman Kota *yang entah oleh siapa di foursquare diberi nama Taman Segitiga Bermuda karena bentuknya memang segitiga*, serta Gunam Indah Sekadau. Anyway, 2 tempat tersebut lebih sering ditongkrongi anak-anak gaoel.
  2. Living cost yang relatif mahal. Di Pontianak *kota tempat saya lahir dan dibesarkan*, harga seporsi ati ampela itu Rp. 2000. Di sini bisa sampai Rp. 8000. 
  3. Diperlukan waktu sekitar 7 jam untuk mencapai Kota Pontianak, dengan kondisi jalan yang 'amat sangat mulus'. Mengapa saya harus membahas waktu dan kondisi jalan menuju Pontianak? Ya, tentu saja karena berbagai macam acara lebih sering diadakan di ibu kota daripada di Kabupaten toh.
  4. Menu kulinernya belum komplit. Belum ada Chai Kue panas, Es Pisang Ijo, Roti Cane, pizza, dan beberapa kuliner lain yang bisa dijadikan pilihan untuk istri yang agak sedikit hobi makan seperti saya hehehehe ^^v
  5. Berdebu teramat sangat. Mungkin ini lebih karena saya tinggal di tepi jalan dengan halaman tanah kuning yang di nyaris setiap waktu dipenuhi oleh antrean truck-truck haus solar.
  6. Agak berisik. Ini jelas karena di salah satu pintu ruko tetangga saya setiap harinya *ya, setiap hari* mengadakan senam aerobik dengan house music yang nyaring, yang terus terang sangat mengganggu ketentraman saya dan suami di sore hari.
  7. Susah mencari pulsa untuk beberapa nomor operator yang saya pakai sejak di Pontianak, sebut saja pulsa Axis dan XL. Agak aneh ya. Sinyalnya nyampai dimari, tapi yang jualan pulsa gak ada hahaha. Mungkin karena jarang yang pakai sih..

Voila! Itu dia beberapa duka yang berhasil saya himpun selama tinggal di Sekadau sejak akhir Februari 2011 sampai dengan Juni 2012. Insya Allah besok, duka-duka tersebut akan saya konversi menjadi suka, ditambah dengan suka-suka lainnya. Stay tune :D


Bagaimana dengan teman-teman? Bertahun-tahun tinggal di kota yang sekarang, adakah duka yang terasa? Boleh cerita sama saya loh di kolom komen ^^

Tuesday, 19 June 2012

PLN, kenapa oh kenapa..



Beberapa hari belakangan, seringkali saya membaca twit, status facebook, status bbm, maupun tret di plurk tentang 'pengumuman' bahwasanya Kota Pontianak lagi musim pemadaman listrik yang cukup lama oleh PLN. Mati lampu pagi, nyalanya sore. Atau matinya sore, larut malam baru menyala. Memang sih, ada sebuah peribahasa China yang berbunyi:

"It's better to light a candle than to curse the darkness"

Hanya saja kalau seeepanjang waktu dengan durasi yang cukup lama listriknya gak nyala-nyala, yah barangkali bolehlah dimaklumi jika pada akhirnya salah seorang teman saya yang merupakan Reporter di Pontianak Post sejak Juni 2003 dan Redaktur di Pontianak Post sejak Mei 2009 *Kang Asep Haryono mesti kenal nih sama orangnya hehehe*, membuat twit dengan bunyi sebagai berikut:

*baca dari twit paling bawah*

Jika ϑî sunia perbankan kt bs memilih selain, BNI, BRI,Mandiri, dan Batara, mengapa ϑî pelayanan kelistrikan kita tak bs memilih selain PLN?
Jika menggunakan kereta api kita tak L̅ªğȋ̊ memerlukan layanan amburadul PT KAI, mengapa ϑî layanan listrik kita psdrah ϑî PLN?
Jk menyeberangi lautan tak L̅ªğȋ̊ butuh pelayanan buruk dari PT Pelni, mengapa kita tak bisa mengelak dr pelayanan buruk kelistrikan dr PLN?
Jika kirim2an barang tak lagi hanya bisa memilih PT Pos Indonesia, mengapa untuk listrik kita hanya bisa pasrah ϑî PLN?
Jika dunia pertelekomunikasian tak L̅ªğȋ̊ harus bergantung dengan PT Telkom, mengapa sampai sekarang masih ketergantungan listrik dgn PLN?
Jika radio saja tak cukup hanya dengan mendengarkan RRI, mengapa pelayanan listrik masih bisa cukup hanya dengan PLN?
Jika tayangan televisi tidak L̅ªğȋ̊ monoton dengan hanya menyaksikan TVRI, mengapa tidak dengan pelayanan listrik, mengapa harus PLN?
Jika transportasi penerbangan saja tidak harus bergantung dengan Garuda, mengapa listrik masih harus bergantung dengan PLN?
Saatnya jangan L̅ªğȋ̊ bergantung pada PLN. Jika air minum saja bisa tanpa harus bergantung kξ PDAM, mengapa tidak dengan listrik?
Puji syukur kehadirat اَللّهُ SWT, semoga PLN diampuni dan amal2 kebaikannya diterima اَللّهُ SWT dan diberikan tempat Ɣğ layak ϑî sisi-Nya


Tuh, langsung saya copy paste dari halaman twitternya bang Ote hehehe. Kalo ga muncul di monitor laptop/layar handphonenya, teman-teman bisa langsung baca via twitternya bang Ote: @ote_marote.

Mengapa oh mengapa. Kenapa oh tanya kenapa..

Somehow, whatever the reason(s) is (are), marilah kita doakan semoga pelayanan Perusahaan Listrik Negara ini mulai hari ini juga, bisa meningkat jadi jauh lebih baik, tak lagi sering mengadakan pemadaman maupun penyalaan bergilir, sehingga kelak di kemudian hari, kita semua bisa dengan lapang dada light a candle than curse the darkness :)