dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Saturday, 29 September 2007

Thomas Alfa Edison

Dia adalah penemu bohlam, begitu dibanggakan semua lapisan masyarakat yang pernah mengenyam bangku pendidikan, baik formal dan non formal. Thomas Alfa Edisonlah yang membuat manusia saat ini ‘keluar dari kegelapan’. As our beloved prophet Mohammad SAW who has already brought us from the darkness into the lightness. Bedanya, kalo Nabi Muhammad membawa kita pada ‘keterangan’ dalam arti terang yang benar-benar menerangkan jiwa dan raga, sedangkan Alfa Edison membawa kita pada ‘keterangan’ yang tidak pasti!


Kenapa? Yeah, sangat terasa sekali ketidakpastian sesuatu yang berharga yang dinamakan ‘terang dari sebuah lampu’ di kota Pontianak tercinta ini. Lagi dan lagi, akibat sesuatu dan lain hal yang harus dimaklumi oleh masyarakat awam ini, kita meraba dalam gelap selama sekitar sekian tahun belakangan ini. Entah bagaimana harus menumbuhkan rasa senang dan terima kasih untuk Thomas Alfa Edison yang sudah menemukan bola lampu dengan gilang gemilang dalam kondisi seperti sekarang ini. Jujur, saya sebenarnya sudah lelah berada dalam kegelapan yang terjadwal dari pihak berwenang (dalam hal ini, siapa lagi kalau bukan PLN).


Dari pihak PT. PLN Persero sudah memberikan konfirmasi bahwa ada kerusakan terhadap ini dan itu dan entah apa itu namanya yang membuat keberadaan listrik (artinya, tidak hanya sekedar penerangan saja yang terganggu, tapi juga pendinginan *kulkas maksudnya*, penyegaran mata untuk nonton TV, dan terutama penyejukan dari AC maupun kipas angin) di Pontianak tercinta ini terhambat sampai dengan pertengahan oktober nanti. Artinya, masih sekitar 2 minggu lagi. Yah, bertahanlah untuk hidup beberapa saat tanpa listrik. Nantikan kejutan-kejutan menarik dari PLN ketika kita sedang nyaman beraktivitas, tiba-tiba lampu padam. Tolong dimaklumi wahai rakyat biasa!

Wednesday, 26 September 2007

I LOVE MY FATHER TODAY


Bapak saya: ”Alhamdulillah, pulangnya sebelum magrib juga kamu hari ini.”
Bapak saya: ”Kamu tu harus ya ngajar sampe malam jam 9 gini? Sekali ngajar dibayarnya berapa? Sini biar bapak yang bayar, tapi kamu jangan ngajar malam lagi.”
Bapak saya: ”Malam minggu nanti jangan ngapa-ngapain ya! Kita makan di tempat biasa.”
Bapak saya: ”Kamu berdoa apa setiap hari? Gimana mau dikabulkan subuhnya aja telat segitu.”
Bapak saya: ”Udah gajian? Sini bapak masukkan ke rekening kamu.”

Suatu sore

Saya: ”Pak, ada cowok cakep pak, taat, Islam, tipe saya banget pak. Doain dia jodoh saya ya pak”

Bapak saya: ”...........”

Saya: ”Pak, denger ndak sih?”

Bapak saya: ”Iya. Kalo jodoh tak kan kemana”

Sore yang lain

Saya: sms [pak, isiin pulsa 20rb donk. Sekarat nih, hampir ga bisa bernafas]

Few minutes later: 222 [Anda melakukan pengisian ulang sebesar Rp. 20.000. Berlaku s/d 30/09/07]

Saya: sms [Wah, bapak ebat. Isiin saya pulsa, hehe. Makasi makasi. Luphyuw mwamwa]

Suatu pagi

Saya: ”Bensin motornya kayaknya cuma bisa dipake sampe depan gang aja tu pak”

Bapak saya: (tidak berkomentar, tapi mengambil kunci motor)

Few minutes later: bensinnya tiba-tiba penuh.

Bapak saya: ”Bensinnya udah penuh. Full teng loh.”

Saya: ”He eh, iya makasih. Nanti diganti” (tapi ga tau nanti versi saya itu kapan hihi)

Suatu pagi, siang, sore, dan petang

Saya: ”Paaak, motornya ndak bisa keluar. Toloooong”

Bapak: (bergerak, keluar kamar. Bergegas ngeluarin motor untuk satu-satunya anak perempuan paling 
cantik ini à soalnya adik saya laki semua). ”Baliknya jangan lama”

Saya: ”Iya, kalo laper pulang kok pak. Tenang ajaaa”

Suatu malam:

Saya: ”Pak, flesdisnya yang kemarin udah rusak”

Bapak: ”Ya beli baru. Kan waktu itu udah dikasi uang untuk beli flesdis baru”

Saya: ”Hehe *biggrinning*. Masa ga ngerti saya sih pak. Kan uangnya udah nyampur sama uang jajan”

Bapak: ”Beli pake uang sendiri lah.”

Saya: ”Yaaaa, mana ada duit. Minta flesdis bapak aja yang itu ya (ngambil flesdis di meja)”

Bapak: ”Ndak boleh. Itu baru beli kemarin”

Saya: ”Pinjem, pinjem”

Dan sampai sekarang, flesdis itu masih ada dalam dompet Monokuro Boo saya. Dipinjam, dalam jangka waktu entah sampai kapan.

Suatu subuh
Bapak saya: ”Bangun, katanya kemarin minta dibangunkan sahur”
Saya: ”............”

Bapak saya: ”Berapa kali sudah kamu ndak sahur. Bangun, hoi bangun”
Saya: ”ngantuk.... Ga mau sahur aja”
Magrib ini
Saya: ”Pak, Al Qur’an kecilnya untuk saya ya?”

Bapak: ”Kan udah banyak Al Qur’an kamu di kamar”
Saya: ”Yah, kan yang ini kecil pak. Yang di kamar kan gede-gede pak, ndak portable. Kan yang ini bisa dibawa kemana-mana pak. Jadi bisa dibaca di kampus pak.”

Bapak: ”Ya, dijagai yang baik. Itu dikasi sama teman dari Madinah soalnya.”

Saya belum pernah dimarahi sama Bapak saya seperti Ibu saya ngomelin saya. Mungkin karena Bapak adalah laki-laki, jadi kurang suka ngomel. Bapak lebih suka menegur saya dengan tajam, akurat,dan sangat mengena. Bapak menegur saya dengan membawa beberapa evidence yang tak bisa saya sangkal. Bapak menegur saya tanpa saya bisa berkutik membalas tegurannya. Gimana mau dibalas, ketika menasihati, bapak saya suka mengutip hadits sama ayat AlQur'an. Mau jadi durhaka plus plus emangnya...

Tapi begitulah Bapak. Sedikit bicara, banyak guraunya. Apalagi kalau sudah jelang akhir pekan. Bapak akan membatalkan rencana jalan akhir pekan kalau saya tidak ikut serta dalam rombongan. Atau, Bapak pasti membungkuskan makanan untuk saya saat pulang ke rumah. Makanan untuk wanita paling karir di dunia, kata Bapak. Ampun dah. Siapa yang wanita karir? Kayaknya saya lebih banyak tidur siangnya daripada di rumah. Mungkin, karena intensitas ngobrol sama Bapak sangat jarang, maka Bapak pikir, saya sangat sibuk di luar untuk bekerja.

Bapak memang baik. Tapi Bapak juga manusia. Meskipun Bapak baik, tapi Bapak bisa juga salah. Kan Bapak juga manusia.


Anyway, judul tulisan ini akan saya baca setiap hari. I love my father today, tidak perlu I love my father everyday. Cukup today, namun saya akan baca setiap hari.

Tuesday, 25 September 2007

SUBJEKTIF YANG OBJEKTIF

I have not finished my assignment at all. My own assignment is left behind. I promise I’ll do it after finishing this writing.

Pyuuuwh, akhirnya dapat tugas kuliah juga. Betapa bahagianya dapat tugas lagi. Bisa bereksperimen dan bermain-main dengan tugas kuliah, senang sekali. Meninggalkan beberapa kewajiban yang tidak wajib, demi sebuah tugas kuliah. Sebuah tugas kuliah, demi seonggok nilai di score list, terpampang indah: A. Sebegitu berartikah sebuah ”A” untuk anak-anak kuliahan?

Baru saja sore ini saya bicarakan masalah ini ke salah satu murid saya. Jangan belajar untuk mengejar nilai. Pikirkanlah prosesnya. Kalau kita mengerjakan sesuatu dengan niat ikhlas untuk mendapatkan pengalaman, maka kita akan rasakan proses yang bermakna dalam memahami apa yang kita kerjakan. Ketika tiba saatnya hasil kerja kita akan diberi nilai, kepuasanlah yang akan kita dapatkan. Kira-kira, seperti itulah isi dari nasehat saya kepada murid saya tadi. Apakah saya sendiri sudah seperti itu ya?

Saya rasa, iya saya lebih suka proses daripada hasil. Sungguh, saya tidak menafikan diri bahwa saya sangat benci melihat skor “C” yang ada di transcript nilai saya saat semester 1. Nilai C yang entah datang darimana. C untuk sebuah mata kuliah yang saya yakin saya sangat kuasai, namun (barangkali) jatuh ketika jelang ujian akhir. Masya Allah. Apa saya sebegitu mengejar nilai? Tentu saja tidak. Saya bisa rasakan proses ‘pengerjaan’ keseriusan saya terhadap hampir semua mata kuliah. Mengapa saya nyatakan ‘hampir semua’? Ya, karena memang tidak semua mata kuliah bisa saya seriusi. Beberapa dosen seakan menuntuk untuk tidak terlalu serius dengan mata kuliah yang diajarkannya.

Sekedar melihat nilai B saja, kadang hati saya agak sedikit kesal dan ingin marah. Kenapa saya bisa dapat B untuk sebuah mata kuliah yang saya yakini saya sanggup meraih A untuk itu? Setelah melihat deretan detail nilai, ternyata saya jatuh di Ujian Akhir Semester. Kuota nilai untuk UAS adalah 40%, tertinggi dari kuota untuk nilai lainnya seperti Ujian Tengah Semester, tugas terstruktur dan aktivitas harian. Betapa menyebalkannya menyadari bahwa saya adalah salah satu mahasiswi yang aktif beropini, bertukar pendapat, dan tentunya mendengarkan pada saat proses perkuliahan berlangsung, namun perhakiman nilai didasarkan pada satu helai kertas yang sebagian soalnya tidak dibahas secara menyeluruh di perkuliahan. Kasus lama, yang sebenarnya tidak saya permasalahkan lagi. Saya cukup puas dan bersyukur bahwa ternyata skor B tergolong ’lumayan’ dibandingkan C atau D.

Maka, inilah pelajaran untuk saya dalam memberikan point atau nilai kepada murid-murid saya nanti. Bahwa ketika saya menjelaskan, ketika kalian paham apa yang saya jelaskan, ketika kalian menghargai penjelasan saya, maka itulah yang akan menjadi nilai akhir kalian. Mau tidak mau, proses subjektivitas terjadi dalam penilaian. Tentu saja, dengan subjektivitas yang tanpa kandungan sentimen pribadi, dia adiknya teman, atau dia rajin dengerin saya siaran. Tidak, bukan subjektivitas seperti itu. Saya menganggap bahwa subjektivitas yang saya terapkan dalam penilaian ini benar-benar OBJEKTIF dan bisa dipertanggung jawabkan.

Barangkali, repot yah untuk memberikan penilaian subjektif yang objektif kepada ribuan murid Indonesia saat ini. Wajarlah jika kemudian ke depannya masih banyak kita temukan orang-orang yang pintar di atas kertas, namun terlihat agak kaku di lapangan. Atau, wajarlah jika beberapa tahun terakhir kita temukan, beberapa siswa yang diprediksikan tidak lulus, namun lulus ujian akhir dengan nilai gemilang. Dan juga, wajarlah jika masih ada saja siswa-siswi berprestasi yang berpotensi luar biasa, namun terkesan biasa-biasa saja dengan indikator nilai di lembaran ijazah yang sebenarnya sangat tidak mewakili apa-apa.

Saya bersyukur, tugas kuliah yang akan saya selesaikan setelah ini akan dinilai oleh seorang dosen yang memberikan penilaian subjektif yang objektifnya. Karena itu, izinkan saya mengerjakan tugas saya dulu. Sebelum hari berubah tanggal.