dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Sunday, 30 September 2007

THR, kemana kau kuposkan?

Berkah dan rahmat Allah begitu banyak turun di Ramadhan setiap tahun. Rasanya semua orang setuju bahwa Tunjangan Hari Raya atau THR adalah salah satu berkah Ramadhan yang tak terelakkan. THR dari atasan, meskipun tak sebanding dengan THR berupa hidayah dan rahmat dari Allah SWT, tetaplah bisa melenakan dan membuat sebagian orang pusing dan bingung. THR-nya mau diposkan di mana ya?

Pusing, karena seakan rob Bill to pay Paul. Gali lubang tutup lubang. Uang THR-nya habis untuk bayar hutang. Sedangkan kebutuhan lebaran *baik yang sangat penting sampai yang tidak penting* belum sempat dijamahkan dengan uang THR. Jadi gimana nih? Ya begitu lagi, rob Bill to pay Paul. Sedih. Tunggu gajian bulan depan lagi baru bisa hutangnya lunas.

Bingung, karena rumah belum di cat. Jendela dan pintu harus segera diganti. Karpet umurnya udah menahun banget. Belum lagi pagar depan yang mulai berkarat. Waduuuh, yang mana duluan ya? Dinding ruang tamu juga sudah mulai mengelupas cat dasarnya. Belum tentu nih THR-nya cukup.

Pusing lagi, anak ada 3, semuanya minta baju baru dan sepatu baru. Istri ada 1. Walaupun satu-satunya, tapi minta budget buat panganan untuk lebaran nanti, lebih dari 1 jenis. *Kasian banget si suami ya?*. Aaaargh, ga usah dapat THR aja supaya ga pusing!

Ya ampuuun. Apa ada ya kepusingan dan kebingungan seperti itu terjadi di dunia nyata tanpa saya pernah melihat langsung kejadian sebenarnya?

Ya udah deh. Daripada pusing mikirin THR, lebih baik untuk semua yang sudah dapat THR, ayo segera sedekahkan 2,5% untuk yang berhak. Sesudah memberi kepada yang berhak, maka poskanlah dengan tenang dan tidak terburu-buru. Hati-hati, THR bisa menjadi sumber bencana jika kita tidak bijak menyikapinya! *Blebh, kayak kampanye apaan gitu ya hehe*

THR --> Tanggungan Hidup Rakyat

Bulan Ramadhan disambut dengan penuh sukacita. Karena Ramadhan mengandung banyak keistimewaan dari Allah. Keistimewaan malam tarawihnya sudah pernah saya singgung di blog ini. Pun barangkali, keistimewaan lain tentang bulan Ramadhan sudah seringkali disinggung di forum-forum lain sehingga saya rasa tak perlu lagi saya paparkan secara merinci tentang istimewanya dan ajaibnya bulan Ramadhan.

Namun, perbolehkanlah saya singgung satu hal yang tak boleh dilupakan dan tak akan dilupakan semua karyawan di setiap pertengahan bulan Ramadhan. Tiga kata indah berjudul THR, Tunjangan Hari Raya. Tapi, mengapa judul di atas menjadi Tanggungan Hidup Rakyat? Mari kita bahas, yuk...

Berawal dari tanda tangan sana sini yang membuat saya tergelitik untuk membahas tentang THR. Mampir ke sini, ”Mbak Dini, tanda tangan dulu”. Di SMSi, ”Dini, ke sini untuk tanda tangan beramplop ya”. ”Tanda tangan di sini, yang ini buat jajan”. Kira-kira seperti itulah. Berlanjut pada beberapa perbedaan nominal besarnya THR dan jangka waktu bekerja di sebuah lembaga, sehingga saya ingin sekali menulis tentang THR.


Seorang teman, bekerja di lembaga yang sama dengan saya, belum genap 3 bulan, mendapatkan nominal yang sama untuk ’uang jajan’ dengan nominal yang saya dapatkan. Seakan saya ini adalah seorang hamba Allah dan karyawan suatu lembaga yang tidak pandai bersyukur, namun rasanya patutlah saya sedikit kecewa dengan ’keadilan’ yang terjadi dalam ’lembaga menyenangkan’ tempat saya bekerja. Apakah saya akan menganiaya pikiran saya sendiri jika saya berpikir bahwa pemilik ’lembaga menyenangkan’ tersebut menganiaya saya (lagi)? Kata orang-orang, kita harus bersyukur. Dizholimi terus-terusan juga bersyukurlah, dan berdoalah maka doa Insya Allah terkabul. Apalagi di bulan penuh berkah ini.


Nah, maka bertanya-tanyalah saya dalam hati dan kepala. Apakah nominal ’uang jajan’ tersebut didasarkan pada tanggungan hidup rakyat sehingga diberi nama ’Uang Jajan’ bukan THR? Atau masih belum siap berjalan sebagai sebuah lembaga sehingga tidak bisa memunculkan THR yang sungguh-sungguh Tunjangan Hari Raya atas dasar pertimbangan Tanggungan Hidup Rakyat yang semuanya belum menikah dan belum akan menafkahi anak istri serta diri? Rasanya sih seperti itu. Karena kalau dilihat-lihat, saya dan semua teman disamaratakan tanpa dipandang status panjangnya jangka kerja di ’lembaga menyenangkan’ tersebut. Lagi-lagi, saya yang merasa dizholimi ya?


Tapi sudahlah. Kenapa jadi tidak bersyukur begini? Lagipula bukan itu fokus Tanggungan Hidup Rakyat saya di tulisan kali ini. Ada hal lain yang lebih menarik lagi untuk dibahas, masih tentang THR, Tunjangan Hari Raya yang menyenangkan dari lembaga-lembaga lain yang jauh lebih menyenangkan dan menjanjikan. Tidak di halaman ini. Ayo pindah ke halaman baru.

Poem


I read aloud my poem in front of the rest of the class in today poetry class. I wrote it this dawn, about 1 pm. My lecturer asked us to write a pray, then I wrote it, purely from my mind.


Pray, I do the prayer.

I say the pray every single night, every single day to You, my Lord.

The first thing to hope from You is making me as a thankful sleeve.

A thankful woman to be able in expressing this gratitude.

That You’ve given me such a nice thing names family.

That You’ve given me a priceless thing names friendship.

That You’ve given me so much responsibility.

Then You gather them into one and let them in me to keep.

Sometimes I can’t set myself to be humble

I state my wishes but I gabble

Eventhough understanding my heart You are able

However, I shouldn’t make my pray as a gamble

I was ignorant, and am!

Please, slap me God. I deserve for it.

Spread me out from this world just gimme a bit.

I still need to be thankful. That is my aim.

No applause, tough. Just a bit ‘ehem’ from some friends before reading my poem aloud. Anyway, the poem above is really pure from me, about myself, absolutely me, not whoever.