dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Sunday, 26 October 2008

Life Review: pilih rasa (lagi)


Saya, sepertinya, cukup senang menulis dan memisah-misahkan tulisan-tulisan saya, khususnya curhatan-curhatan saya, ke dalam beberapa tempat yang berbeda. Seperti tulisan yang akan saya bagi lagi kali ini, yang saya pilih untuk saya tuliskan dengan tangan di diary curhat implisit saya *weleh, skarang diarynya jadi ada nama hehe* daripada saya ketikkan di halaman blog saya.

Tulisan ini saya tulis dengan tangan, di diary curhat implisit, dengan perasaan cukup bahagia. Kalo ga salah inget, setelah diguyur hujan, setelah air mata menetes beberapa tetesan, setelah rasa hati lapang. Saya, juga sepertinya, senang sekali mengulas tulisan ini. Walaupun beberapa lamanya, ada perubahan juga, saya sempat pilih lagi dia di sini. Dan tulisan ini, lagi-lagi, topik yang sama.

Hari itu, Oktober 15, 2008



Hai... Assalamu'alaykum Wr Wb
Apa kabar hati? Masih pilih sedih atau sudah merasa jauh lebih baik?
Well, thanks so much Allah... Thanks so much to give me such wonderful power inside so I can stand in the earth, then choose a feeling namely:


HAPPY,

at least starting (again) from today.
Entah mengapa, rasa tak kuasa dan malas saya berhasil terbunuh dengan gerak langkah kaki-kaki yang Allah anugerahkan secara ikhlas pada saya. Kaki-kaki yang malah lebih bersemangad menuju tempat kejadian perkara, tempat-tempat habiskan waktu berharga, tempat mood saya sebenarnya tak terbangun dengan sempurna, sungguh logika sangat sombong terhadap rasa! Beberapa kali otak saya dibuat tak bekerja maksimal gara-gara hati. Pada saat otak saya sedang tidak berputar pada porosnya, tepat di saat itulah ruang hati tempat saya menyimpan emosi masuk menyeruak mengendalikan dini yang tak kendali dan kenali diri.

Syukurlah...
Suasana hati saya yang saat ini sedang jauh lebih baik datang berkunjung di hati dan pikiran saya. Mudah-mudahan dia betah berlama-lama, lalu memilih untuk tetap tinggal di sana, selamanya. Ya, aktivitas rupanya cukup berpengaruh dengan apa yang akan saya rasakan. Susunan kalimat-kalimat yang keluar dari hati paling dalam juga amat berpengaruh. Maka, saat apa yang saya rasakan sudah setara dengan apa yang saya dengar, ditambah aktivitas yang lancar dan menyenangkan, sungguh, suntikan energi untuk menjadi lebih ikhlas juga smakin meningkat.

Perasaan yang nyaman, yang sudah saya pilih hari ini dan berhasil masuk ke dalam lapisan hati, otak, dan perasaan saya yang paling dalam.
Yes, again, after being sad and having a feeling of being ignored, rejected, and far from willing-human being, I choose to be much HAPPY...

FAINNAMA'ALUSRIYUSRAA...

Life Review: metamorphoself


Masih di hari yang sama, 26 Oktober 2008, dan saya masih ingin berbagi tentang tulisan-tulisan saya dalam diary saya yang saya simpan sejak saya masih SMA, penuh tulisan-tulisan implisit, yang kadang harus saya pikirkan ada kejadian apa dibalik tulisan saya.

Yang kali ini akan saya bagikan adalah rekaman kejadian setahun belakangan, dalam susunan kalimat sangat singkat yang sepertinya akan terkesan pesimis, namun itulah awal keberanian saya berteriak: SAYA BISA, SAYA OPTIMIS. Hari itu, Final September 2008, ketika hati sedang menangis menjadi dengan balutan takbir Idul Fitri.

Final September 2008




Bayangkan betapa malas tulang saya bekerja! Bahkan begitu banyak peristiwa berharga saya lewati tanpa satupun saya sediakan wadah kasat mata untuk menjadikannya sebagai tempat bahan refleksi.
Desember 2007. Wacana untuk ubah penampilan, niat setengah kosong. Januari 2008. Change! Performance. Sifat-sifat jahiliyah tetap melekat di badan, belum mau lepas. Februari 2008. Usaha sekuat tenaga. Selembar, sehelai kain panjang di kepala itu untuk kontrol sikap, ujar saya. Hanya ujaran, belum berhasil saya buktikan. Maret 2008. Usaha makin keras. Ghirah mulai tampak. Sedikit terefleksi, dengan hati masih penuh kilau tanya. April 2008. Seakan saya aktivis paling peduli nasib umat. Drastis, kecewa pada pilihan hidup yang tak bisa dipilih, sebetulnya. Mei 2008. Fluktuatif. Ntah apa saja yang terjadi sepanjang bulan ini, tak lagi saya ingat dengan baik. Juni 2008. Masa bosan, jenuh, lelah. Mana orang-orang yang mau mengerti saya? Juli 2008. Kontroversi. Saya menjadi ulat lagi. Walaupun belum sempat terbang tinggi, rupanya jiwa ini sedang lelah dengan aktivitas yang tak sanggup dicapai ruhani. Agustus 2008. Refleksi diri. Penampilan berubah kembali. Sudah lupa dengan istiqamah, karena tak dijamu dengan layak di dalam hati. Tak ada sofa lembut di dalamnya. Mulai lenyap pergi. Kain lebar di kepala juga sudah mengaku kalah. Hari ini, ujung September, akhir Ramadhan, penuh suara takbir, bahkan seakan terdengar terlalu banyak untuk telinga saya malam ini. Tak cukup kuat terima fakta bahwa saya sudah kurang tepat tempatkan hati. Sebuah pesan:

Simpanlah hati pada tempatnya!


Mengena, tapi belum cukup kuat untuk saya refleksikan di hari-hari saya. Kenapa terus menerus begini? Sejak 18, dan sekarang saya 21 tahun! Masih juga ada rasa bodoh tentang diri yang tak diingini? Ya, karena rupanya apa yang disebut-sebut sebagai "cuma perasaan dini saja" itu membalut lembut pelan tapi pasti. Saya hanya mau sampai tahun depan, atau kurang. Saya diinginkan dan ikut menginginkan, dan mereka sudah tidak ada lagi. Ya, paling tidak tahun depan! Bahkan kurang dari angka itu! Saya cukup yakin. Ini juga masalah masa depan saya!

Life Review: don't let it empty



Malem ini, tepatnya dini hari ini, 26 Oktober 2008, ketika mata saya tak lagi bisa berkompromi dengan keinginan untuk tidur, pada saat tak ada lagi kuapan dari keinginan untuk melewati sepertiga malam yang belum bisa saya lewati dengan tahajud, saya buka-buka lagi diary saya yang berisi curhat-curhat implisit saya. Izinkan saya berbagi, teman...

Hari itu, December 12, 2007...



Bulan begitu jauh saya lewati, apalagi hari. Saya seakan hilang asa, kosong jiwa, tak tau akan bagaimana. Saya bahagia dengan kehidupan sekarang, tapi masih merasa selalu ada bagian kecil penting dan berharga yang begitu kosong dan rapuh. Kosong...

Betapa akan jadi begitu bahaya kalau terus menerus saya tinggalkan kosong.
Akan kosong sampai kapan?

Dan sekarang ini, hidup sudah seakan-akan dikejar oleh waktu, deadline, tenggat kerja. Sedangkan tulang ini terus dan masih saja malas. Seakan-akan, semua beban sedang menari-nari gemulai di pundak saya.

Saya benci