dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Wednesday, 31 December 2008

Senyuman awal tahun


Alhamdulillah, tahun ini bisa saya mulai dengan senyuman. Barangkali, perasaan senang ini agak sedikit saya paksakan. Uwm, bukan dipaksakan siy, nope. Ini perasaan yang saya putuskan untuk saya rasakan malam ini, dini hari ini, jelang 2009.

Awal tahun lalu, saya sudah bertekad untuk berubah jadi lebih baik. Oh yeah, tiap hari saya inginkan itu. Saya selalu ingin menjadi lebih baik, tapi tak harus kehilangan jati diri saya sendiri. I am able to make it! Sure...



Jika beberapa hari yang lalu saya sempat merasa penurunan mood, perasaan tak diinginkan, hawa-hawa hati yang penuh luka dan menanti sesuatu yang tak pasti, maka malam hari ini, jelang 2009 ini, saya telah membuat analisa kenapa perasaan semacam itu bisa muncul. Inilah analisa saya:

1. Sepanjang semester akhir tahun ini, saya lumayan jauh dari amalan-amalan sunnah. Ya ampun, rupanya saya lalai ngasih makan jiwa saya yang kelaperan! Saya sombong dan males. Ya, saya tidak seimbang. Well, well. Masih mau gitu lagi din tahun depan? Sure, not. Makanya, saya beresolusi: Memberi makan jiwa saya yang lapar, dengan spiritual, recharge lagi. Saya tetap akan jadi diri saya sendiri, yang lebih baik. Saya berubah jadi labih baik, dan tak perlu kehilangan jati diri.

2. Saya terlalu bergantung sama orang lain. Sejak berani memelihara rasa berjudul 'cinta', yang menurut salah seorang teman, itu adalah sesuatu yang dudul *hehe, nyinggong sikid ye kak pit :p*, saya mulai bertindak bodoh, terbutakan. Bego ah. Makanya, saya beresolusi: SABAR. Beneran, ga ada solusi lain selain sabar. Oh yeah, Ikhlas juga. Bersabar, sambil berusaha ikhlas, tanpa lupa bersyukur.

3. Saya kebanyakan janji. Janji ga ngulangin ini, janji ga posesif lagi, janji ga bertindak bodoh lagi. Oaaargh, kebanyakan janji. Kalo kata Andrew Matthews dalam bukunya "Being Happy", justru saya malah akan melakukan sebaliknya. Makanya, saya bersolusi:
menghindari janji, bahkan kepada diri saya sendiri. Kalo mau berubah, lakukan saja, ga usah janji. Kalo ga berubah, toh saya akan punah.

4. Saya terlalu banyak mimpi dan ngimpi. Mimpi, boleh aja. Tapi kalo ga realistis tetep aja percuma. Inged, din: Happiness is not having what you dream but appreciating what you have. Intinya, saya kurang bersyukur. Makanya, saya beresolusi: perbanyak bersyukur.

Well, resolusi kali ini sedikit berbeda dari resolusi tahun lalu. Walaupun resolusi tahun lalu itu sepertinya belum begitu terasa dampaknya, tapi saya tau saya sedang menuju hasilnya. Saya sedang melewati dinamika cantik itu. Nah, sekarang saatnya menjadi baru! Tersenyumlah, dinie. Semangadlah!

Semangadlah!

Tersenyumlah!

Bahagialah!

Tentu, tak satu pun yang dapat ganggu bahagiamu jika Dia sudah ada di hatimu, hati kita semua, kawan.

Sunday, 28 December 2008

I am a sobbed sister


Teman-teman pernah berkunjung ke sini? Kalo belum, cobalah berkunjung, lalu baca dengan penuh penghayatan beberapa artikel yang ada di situ. Oke, sudah selesai membaca? Oh, belum? Ya sudah, baca dulu.

Gimana? Dah selese baca? Bagus gak ceritanya? Apah? Belum baca lagi? Oke, ya udah gapapa. Gak ada cerita di situ yang akan saya copy. Tujuan saya membuat postingan ini sebetulnya ingin tau kadar kesensitifan teman-teman.



Saya tergolong perempuan yang lumayan sensitif, untuk hal apapun. Kenapa tadi di awal saya meminta teman-teman untuk baca artikel yang ada di sini? Itu karena saya ingin tau, apakah teman-teman menitikkan air mata pada saat dan sesudah membaca artikel itu? Oh yeah, saya iya!

Bukan sekedar artikel saja yang bisa membuat saya melelehkan air mata. Kalo ngeliad bapak-bapak jualan bakso, trus muka bapak itu keliatan capeeee' banged, juga bisa bikin saya nangis. Apalagi kalo gerobak baksonya jatuh, trus baksonya tumpah. Saya bisa nangis sampe harus menutup muka pake tutup helm. Serius!

Nah, apalagi dalam situasi belakangan ini. Di bulan yang tadi siang, kata saya, membuat saya merasa agak kurang beruntung. Sebetulnya, bukan salah bulannya siy. Sayanya aja yang memang kurang piawai mengelola emosi. Deuh, percuma aja ikut Leadership Training dah kalo kayak gini. Efektif cuman sekian minggu, trus abis itu sayanya melempem lagi. Hoaaargh pantesan aja TRK itu penting ya
*uwm, saya lupa kepanjangan TRK itu apa hehe. Tapi yang pasti, saya sekarang mengakui kalo TRK memang sangad penting!*

Yang membuad saya sedikit menyesal hari ini adalah, saya tidak bisa mengimbangi perasaan senang yang sahabat saya, Dita, rasakan hari ini. Saya, dengan egoisnya, malah menangis setelah Dita cerita betapa seneng dan bahagianya dia menghabiskan waktu dari pagi sampai siang tadi. Trus saya dateng, ya ampun, merusak mood Dita aja kayaknya. Maafin saya, sahabat.

Makanya, berhubung juga Dita besok genap *ato ganjil siy?* 21 tahun, saya yang sudah menyediakan hadiah ulang tahun untuk Dita, ingin lagi memberikan kado yang juga sebetulnya untuk saya sendiri: sebuah keputusan untuk menikmati apa yang sekarang saya punya, mengarahkan pikiran saya menuju perasaan senang, sehingga saya ga perlu nangis terus. Yeah, dengan sahabat yang luar biasa seperti Dita.

Well. Today I realize that I am still a sobbed sister, still can't handle my bathetic, still not capable in managing my very own emotion, still dumb for making very easy decision to my own happiness! That's why, today, I promise myself, to fill in my resolution, in the D day of my bestfriend's special day, 3 days before reaching 2009. Really, I promise! And I believe I am able to!

Soon, I will publish that I am happy enough to be me, to have happy family, to feel intended, to love a man who loves me badly, to be together with people who love me. Sure, apa yang saya inginkan gak mungkin bisa semuanya saya dapatkan. Tapi paling tidak, saya memutuskan untuk menginginkan sesuatu yang bisa saya penuhi sendiri: yaitu bahagia menjadi diri saya sendiri, coz

I'd rather be hated for who I am, than be loved for who I am not.

Bismillah. Allah is with me, always.

Saturday, 27 December 2008

Saya dan Desember


Saya seringkali merasa kurang beruntung di bulan Desember. Kurang beruntung dalam suatu sisi kehidupan, yang sebenernya kalo saya pikir pake akal sehat dan mau sedikit memenangkan logika dari rasa, tidak harus saya bahas di sini. Tapi tetap aja, saya mengalami sebuah fakta bahwa di bulan ini, sejak tahun 2006 lalu, saya seakan berada di posisi kurang enak. Pyuwh. Memang siy, masa lalu itu ga boleh sering diungkit-ungkit. Dijadikan bahan refleksi. Ya, memang iya. Ini juga saya sedang merefleksi 3 kali bulan Desember yang membuat saya merasa sangat menyesal tidak kunjung benar-benar berhasil menekan emosi saya yang meluap-luap.

Saya dan Desember, rasanya tidak seindah saya dan Juli. Juli, sebuah bulan sangad indah, paling indah, malah.



Apakah saya tidak adil sama bulan-bulan itu ya? Ataukah saya yang sudah menghadirkan rasa takut saya terhadap bulan tertentu? Huh, padahal saya sendiri pernah menulis, bahwa ketakutan saya justru akan membawa manusia pada ketakutan tersebut. Trus, ngapain saya takut ya? Pyuwh... khawatir berlebihan nih.

Baiklah. Saya mau menanamkan pikiran yang bagus-bagus aja kalo gitu. Biarin deh, walopun mungkin faktanya nanti mungkin tak seindah yang saya pikirkan, paling tidak saya mulai menaati apa yang saya sendiri ucapkan dan tuliskan. Selama ini, kayaknya saya cuman pinter ngomong, bisa nulis, dan pas lagi sedih, lagi kecewa, lagi ngerasa tak diinginkan dan perasaan-perasaan serupa lain yang muncul membuat saya nangis-nangis mpe kecapean, kemudian saya baca tulisan-tulisan saya sendiri, baru deh saya terpana, bahwa "Oh, Gosh. Itu tulisan saya sendiri yang ketik! Dalam keadaan sadar, dalam keadaan stabil, sepertinya".

Hmmm, Desember semakin menunjukkan, cukup sering juga belakangan ini saya menjadi kekanak-kanakan akibat menyimpan perasaan bodoh yang sebetulnya sudah lama saya sadari kebodohannya. Saya mau bahagia, dengan menciptakan sendiri kebahagiaan itu. Tidak hanya di bulan Juli, lalu kehilangan rasa bahagia itu di bulan Desember. Saya ingin memiliki kebahagiaan itu di semua bulan. Saya pasti bisa menjalankan apa yang sering saya ungkapkan: memilih perasaan bahagia, bersama orang-orang yang saya cintai dan orang-orang yang sangat mencintai saya.