dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Wednesday, 10 June 2009

Sejarah, Hadiah, Misteri


Yesterday is history, tomorrow is mystery, today is a gift! That's why it's called the present!

Pasti sudah hafal dengan kalimat itu kan, kawan? Yeah, untuk yang pernah nonton Kungfu Panda, tentunya tau juga siapa yang ucapkan kalimat itu. Betul. Master Oogway!! Yeah, walopun merely an animation movie, sekedar cerita fiksi, paling tidak di film itu banyak betul kan ya pesan (baca: ibrah) yang bisa kita maknai untuk diimplementasikan dalam kehidupan kita?

Well, well. Saya tidak sedang akan membuat review film Kungfu Panda. Pertama, karena sudah ada banyak yang review. Kedua, karena itu juga bukan film yang cukup 'baru' untuk direview. Ketiga, karena saya akan menghasilkan ketikan beraroma 'khas' thekupu, bukan copy-an dari manapun, Insya Allah ;)



So, then, what to share this shiny nite? Tentu ada hubungannya dengan kalimat berwarna ungu tersebut di atas. Dan juga sangat berkait erat dengan beberapa hal penting di sini.

Saya sangat terkesan dengan komen dari temanteman. Ada yang mendukung, ada juga yang meminta untuk mempertimbangkan. Great. Betapa, ukhuwah yang manis dan dinamis :). Menggelorakan hormon endorphin saya untuk semakin bahagia, semakin bersemangat, semakin memacu diri untuk tak lelah berkeringat mengejar citacita saya. Semoga dukungan temanteman, dalam bentuk apapun, akan segera dibalas Allah SWT. Amiiin :y

Dulu saya pernah ngotot dengan temanteman saya untuk menerima saya apa adanya, sambil dengan pedenya berkata: "Yeah, here is dhz, with my plus value as well as some weaknesses. Just take me for granted, have me the way I am". Sebuah kalimat 'pasrah', terkesan ga mau berubah hehe. Anyway, sebetulnya, bagian: "Have me the way I am" beneran masih saya lafadzkan juga ke beberapa orang yang betulbetul memahami saya, especially saya yang sekarang.

Mari lihat kalimatnya: the way I am. Yeah, the way I am, kawan. Bukan the way I was atau the way I will be. Saya yang sekarang, for me myself today. Pernah juga saya tulis di status facebook saya tuh. Bahwasanya, saya yang sekarang, Insya Allah, adalah saya yang ingin terus mengepakkan sayap yang perlahan mulai tumbuh di poripori kulit. Warnanya mungkin masih bening, tak terlihat. Itulah sebabnya saya katakan, hanya beberapa orang yang betulbetul memahami saya saja yang mengerti: the way I am.

Baiklah. Jika hingga tulisan di barisan ini masih juga dianggap mutermuter apa sebetulnya maksut dan tujuan saya *hehe, karna kayaknya karakter tulisan dhz itu mah, emank suka muter :p* maka berikan space buat saya untuk menjelaskan what actually "the way I am" which I mean. Namun sebelumnya, mohon maaf yang sebesarbesarnya bilamana saya mengeluarkan sedikit spesialisasi saya di bidang bahasa.

Mari kembali ke kalimat berwarna ungu tadi:
Yesterday is history, tomorrow is mystery, today is a gift! That's why it's called the present!


The Way I am.

It reflects a present, a today. And I am today, I believe, always trying to improve with every new day. Smakin bersemangat, karena kedua orang tua saya ternyata tidak keberatan ketika saya ajukan sebuah usulan demi kebaikan. Saya hari ini, kawan. Maka, have me the way I am, not the way I was, nor the way I will be. Saya yang kemarin sore, yeah sudahlah. Tak bisa dielakkan bahwa itulah sejarah hidup. Pernah tertulis, dan barangkali sulit hilang. Tapi, seperti inti dari komentar bang fakhrul *semoga Allah semakin menyayangimu, saudaraku* bahwa kisah masa lalu tak perlu terlalu diingat, melainkan dijadikan semacam temporary mirror saja supaya tak lagi terulang di masa sekarang. Yeah, that's what I mean as conducting my story into other form, later on.

The way I was, and the way I will be, apakah perlu saya bahas? Saya yakin, belum perlu ;) I was much bad, maybe. And I am having no intention at all to explore things that can contribute myself today to be just like I was before. But please let me design a so-called new-much-better-life so I have chance to own a good, even thebest way of me will be :)

Hmm, jika diizinkan mengutip status facebooknya Hasbi *yang pengurus blog LSK, setau saya :D* maka akan saya kutip: "Perjuangan dimulai oleh orang-orang yang berani dan dimenangkan oleh orang-orang yang ikhlas". Bantu saya, kawan. Paling tidak, melalui doa temanteman di pagi dan petang agar saya *dan temanteman juga, tentu saja* menjadi salah satu dari orang berani yang akan memulai perjuangan dengan lebih kencang lagi, berakselerasi untuk menang, hingga saya layak ditempatkan dalam barisan orangorang ikhlas. Amiiin :y

Olrait, then. Sekian hadiah hari ini. Today is present, rait? Yeah, it's the special gift from me. Selamat menghitung hari :L

Friday, 5 June 2009

thekupu: Novel Merah Jambu


Bahwa saya suka menulis sejak saya SMP adalah sebuah kenyataan. Entah angin apa yang membuat saya semakin yakin, suatu hari saya akan menulis novel, novel yang kisahnya berasal dari kisah hidup saya sendiri. Dengan ramuan sentuhan sastra, tentu saja :d. Dan entah kekuatan darimana juga yang membuat saya yakin, bahwa suatu hari novel saya itu akan penuh dengan jutaan kenangan indah sejak pertama kali saya tarikan jari jemari saya di benda petak kecil tubuh berlabel HP yang saya beri nama: Lappytawati Digitalansari. :y

Fluktuatif, itu sebuah sifat yang saya buat sendiri. Untuk menggambarkan bahwa: yea, saya seperti kupukupu. Bedanya, hari ini saya sungguh mengembangkan sayap dengan perkasa, tak seperti hari lalu yang masih dijatuhi prasangka dan curiga. Ah, bukan dijatuhi kok sebenernya. Sayanya aja yang punya frame pemikiran begitu, sehingga begitulah jadinya. Bukankah kita adalah seperti yang kita pikirkan? Allah pun pernah berkata, Aku adalah seperti yang hambaKu sangkakan. Iya kan ya? Well, well. Karena itulah saya selalu berusaha berprasangka baik pada Allah, sampai dengan hari ini, dan kalau boleh saya sampaikan, dimulai dengan lebih kencang lagi hari ini!!



Fluktuatif, gampang berubah, sugestif, mudah terpengaruh. Olrait. Saya sudah tau sifat saya seperti itu dan tidak ingin saya berganti menjadi saya yang 'takbaik' garagara sifat itu. Saya bukannya pede menganggap sekarang saya seakan sudah 'baik', kawan. Hanya saja, saya sudah sangat bahagia mendapati diri saya, pada akhirnya, berada pada posisi nyaman yang setelah sebelumnya saya berhasil keluar dari zona nyaman yang maya. Posisi nyaman ini berbeda dengan zona nyaman sebelumnya, kawan. Posisi nyaman dan zona nyaman, jelas berbeda dari sudut pandang kacamata saya yang baru saja bertambah minusnya ini. Zona nyaman waktu itu, bersifat maya dan penuh hedon. Sedangkan posisi nyaman ini, seperasaan saya mengecap nyamannya posisi ini, adalah sebuah posisi di mana saya belum pernah betulbetul meletakkan diri dengan serius di dalamnya *yang artinya saya pernah memilih posisi ini tapi tidak betulbetul*, dan pada akhirnya menemukan diri saya benarbenar diinginkan dan sangat special di mata para penghuni bumi!! Sangat nyaman…

Dulu, ketika saya tau bahwa saya adalah tipikal orang yang fluktuatif dan sugestif *dan juga eksplosif serta agresif, sepertinya :D*, saya betulbetul memanjakan diri dengan sifat saya itu. Membiarkannya mengalir kemanapun saya ingin mengalir, tanpa berpikir panjang bahwa ada begitu banyak pagar berjalan yang berusaha menangkap saya agar tidak terbang jauhjauh dari tempat di mana saya semestinya berada. Makadariitu, ketika usia saya menginjak angka layak untuk menikah *ini menurut saya loh ya :$*, dan ketika banyak asupan pencerahan pikiran agar warna dalam otak ini tak melulu pink saja, saya pun betulbetul berusaha untuk tak lagi menjadikan karakter extrovert ini sebagai alasan pembenaran untuk teriakkan semua yang sedang saya permasalahkan ke seluruh dunia. Pelajaran sabar yang sudah saya dapatkan sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, pada akhirnya, perlahan tapi pasti saya implementasikan hari ini, belakangan ini, dan semoga di hari depan nanti hingga saya tak lagi punya kekuatan menulis.

Pun begitu pula jika pada akhirnya, karena tulisan saya yang sebelumnya, dua orang saudara menyarankan pada saya agar menghasilkan cerita dengan ketikan tangan saya sendiri, melalui pengalaman pribadi saya sendiri, *terutama untuk bagian itu, ujar akh fakhrul ;)* maka dengan sangat bahagia saya katakan bahwa sesungguhnya, pengalaman saya yang di bagian itu *entah apa maksutnya ya bagian itu? hehe* untuk sementara ini masih saya anggap sebagai sebuah bagian masalampau yang hanya saya ceritakeun pada orang sangat special saja. Bukan berarti kalian tidak spesial, kawan. Kalian juga special :). Namun simaklah dulu alasannya mengapa belum juga saya kisahkan ‘bagian itu’.

Yeah, saya tak menafikan saya memang punya pengalaman di ‘bagian itu’. Akan tetapi, kawan, izinkan saya menyimpannya dulu dalam memori ingatan buatan Allah, menuliskannya dalam sejarah, mengetikkannya dengan rapi dalam database digital ini dengan lebih bergairah, menceritakannya hanya pada saudara yang sangat saya sayangi dan saya percayai, barulah kemudian, jika tiba masanya nanti, akan saya bagikan dengan penuh suka cita melalui cerita novel orisinil tulisan saya tanpa copy-paste suatu hari, Insya Allah. Jangan khawatir, gratis untuk yang rikwes ;) Hmm, apakah judulnya nanti akan begini: thekupu, Sebuah Novel MerahJambu? Aha, belum tau. Toh saya sendiri juga belum bisa pastikan, apakah novel tersebut akan terbitk atau tidak.

Hanya satu hal yang berani saya paparkan: I don’t know how, but I believe ^_^.

Terimakasih sudah terus menanti tulisan saya, kawan. Dan para penggemar, tentu saja *masihnarsisdikitajaya.com* :p

Thursday, 4 June 2009

Berjalan bersama


Kapan terakhir kali menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, kawan? Seberapa sering kita menyengaja untuk jalan kaki berkilokilo meter, kalau tidak ada certain occasion yang mengharuskan kita untuk jalan kaki? Yeah, such as jalan santai yang buanyak doorprize, ikutan aksi palestine, motor keabisan bensin ato putus rante, and else.

Sepekan, paling tidak berjalan kaki sebanyak 2 sampai 3 jam. For having a good quality of Qawiyyul Jasmi, perlu juga menyengaja untuk berjalan kaki keun? Yeah, tentu saja juga supaya tidak memanjakan diri dengan 'kudabesi' yang Allah titipi. Waduh, kenapa belakangan ini saya senang sekali menyindir diri sendiri? Apa karena ini bulan Juni? Yeah, di Juni ini aku berjanji kepada hati untuk tak lagi merasa sedih *widiiiw, seakanakan bulanbulan lalu tu saya sedih, gitu ya? hoho*. Nope, not at all. Menyindir diri sendiri itu, tak kenal waktu. Bukan menyindir, sebetulnya. Tapi, menyadari kesalahan sendiri, termasuk kealpaan saya yang jarang jalan kaki, bahkan sekedar ke depan gang aja. Hikz.

Baiklah. Mari membahas tentang jalankaki, kawan.



Melalui google.com, saya menemukan beberapa manfaat jalan kaki. Dan salah satu site yang dihubungkan dari hasil pencarian saya dengan kata kunci: manfaat jalan kaki, saya mendapatkan informasi di sini. Silahkeun dibaca sendiri ya, d.e.l.a.p.a.n manfaat jalan kaki di situ.

Anyway, mengutip salah satu manfaatnya: bahwa jalan kaki bisa membuat bahagia!! What a very great impact, uh!? Tapi, mari baca dengan seksama kutipan artikelnya berikut ini:

Membuat bahagia

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Texas menyimpulkan bahwa berjalan kaki selama 30 menit dalam sehari bisa mengurangi depresi dan stres.

Bahkan studi Universitas Temple menyebutkan berjalan kaki 90 menit selama lima kali dalam seminggu bisa membuat Anda merasa lebih bahagia, karena tubuh manusia memproduksi endorphin, yaitu semacam hormon yang membuat orang menjadi bahagia.

Nah, nah. Ternyata, yang bikin bahagia itu, not directly jalankakinya kita, kawan. Melainkan, sebuah hormon bernama endorphin, yang tentu saja sudah dengan sangat cantik dan luarbiasa diciptakan oleh Allah SWT sejak kita lahir. Artinya, bahkan sejak pertama kali ruh ini berucap janji setia padaNya, potensi untuk bahagia itu sudah ada, dan tinggal digali saja. Toh saya juga sudah pernah bahas tentang ini di postingan sebelumnya kan ya ^_^. Semangat itu bukan dariku, ia ada dalam dirimu. Kamu tinggal explore aja gimana caranya biar hormon endorphinnya bekerja maksimal ;)

Yeah, bahwasanya kesehatan, kebahagiaan, kecantikanhati, semua adalah anugerah dari Allah SWT. Bahkan kesedihan pun, sedih yang disertai airmata yang menguatkan jiwa, jika saya boleh beropini *yaiy, boleh dong din, silahkeun aja toh blog sendiri heheh*, mereka juga anugerah. Tentu saja, kawan. Seperti yang pernah ditulis oleh seorang dokterhewan, bang Nur'aini Suharsono, ketika ia sedang dalam perjalanan, tulisnya:

Masih banyak celah yang menjadi anugrah...
tak selamanya yang dikhawatirkan terjadi, toh Allah masih memberikan banyak keindahan dan eleganisasi....

Semua berangsur sembuh dan mulai bangkit dari kealpaan diri,
bukankah setiap kita setiap hari harus dewasa dan menjadi mawas diri ?

Bilapun ada yang tertinggal dan belum berubah, mungkin saja itu batu besar,
karena memang butuh waktu utk memecahkannya, namun paling tidak,
sampah dan lumpur yang tidak menjadi kerak hati tetap bisa di bersihkan....

Siapa sih yang mau berendam lama-lama dalam stagnansi dan kebodohan...
tak ada enaknya membasahi jiwa dengan kekerdilan...
Mungkin akan lebih cerah bila berupaya tumbuh, mekar dan dihinggapi kupu-kupu serta dipayungi matahari pagi...

Yach...sejak kita disebut manusia, sejak itu pula kita menjadi cantik dan anggun di depan kebodohan....Pasti !

Cantik dan anggun di depan kebodohan. Ah, bagus sekali... Dihinggapi kupukupu serta dipayungi matahari pagi. Yeah, matahari yang senantiasa tersenyum, kawan. Senyuman yang hangat, yang hanya bisa dilihat oleh sepasang mata yang berfungsi ganda: melihat untuk kemudian menyampaikan langsung ke dalam hati. Sangat terasa hangat. Itulah sebuah pertanda baik. Itulah pertanda bahwa rekayasa Allah yang paling indah sudah diterima dalam ruang hati paling dalam, tanpa perlu di acc dengan tinta hitam di atas kertas putih.

Dan jika, berjalan kaki adalah sebuah aktivitas pergerakan salah satu bagian tubuh yang memberikan beragam manfaat, maka pastilah 'berjalan' menuju sebuah muara yang indah dan elegan, menjadi sesuatu yang bahkan jauh lebih menyehatkan dan membahagiakan daripada berjalan kaki 10.000 langkah per hari.

Anyway, yuk mari biasakan jalan kaki. Paling tidak, kalo semisalnya masjid ga terlalu jauh dari rumah, bolehlah kunci kudabesi dibiarkan gantungdiri :p *maksabanget.com supaya rimanya sama ihihihi* ato, kalo mau fotocopy dokumen yang tempat fotocopynya deket buat pergi, yeah sudah pilih aja jalan kaki. Hikz, nyindir diri sendiri lagi.