dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Tuesday, 30 June 2009

June Review

Oke. Saya skarang mau review, sebagai muhasabah, refleksi, koreksi, evaluasi, dan barangkali motivasi diri sendiri melalui tulisan saya sepanjang bulan ini.

Alhamdulillah, Juni 2009 lebih produktif dibanding bulan lalu. Ada 19 tulisan yang saya publish. Ada apa dengan thekupu sepanjang Juni?



Awal Juni adalah momen di mana saya merasa cukup pantas untuk berbagai kebahagiaan (lagi). Bulan inilah, menurut saya, saya mulai berhasil temukan 'klik' yang segar, merasakan doa saya untuk yang kesekiankalinya, diijabah dengan cara yang indah oleh Allah. Sepanjang usia saya, inilah masa nyata saya bisa merasakan apa yang disebut orangorang sebagai sebuah langkah yang benar. Melangkah sendiri rasanya tak enak ya, kawan.. Maka dari itu saya pun kemudian mengajak temanteman untuk menapaki langkah bersamasama.

Juni tahun ini sangat berbeda dibanding tahun lalu. Saya pernah membatin pada diri sendiri, bahwa Juni adalah bulannya saya ga makan, bulannya saya 'memilih' untuk sengsara, dan itu terjadi 2 tahun berturutturut di bulan Juni lalu. Tapi rupanya itu hanya sugesti, kawan!! Karna itu tak terjadi tahun ini, Alhamdulillah :). Allah mengizinkan saya untuk terus berkarya, hingga meyakini diri sendiri lewat sebuah impian berupa serangkai duarangkai curahan kata lewat bukusejarah merahmuda. Buku sejarah, yang mencakup cerita sejarah, hadiah, dan barangkali sedikit prediksi misteri. Sebuah kebutuhan untuk diterima sebagai, thereal thekupu.

Sedikit penyegaran dari Ibu saya di sini, sekaligus pernyataan terbuka bahwa saya memang suka dengan keputusan Majelis Syuro'. Dan setelah itu, sedikit amunisi untuk beberapa orang saudara, agar ghirah menulis dan update blog makin meningkat. Masih ada yang belum pajang awardnya di blog yaaa :D

No problem, anyway. Karena sesudah itu, saya belajar banyak dari seorang saudara, dan sempat berfikir untuk cuti beberapa hari dari dunia maya untuk persiapan segala macam ini dan itu tahun ini. Toh rupanya cuman perkara pengelolaan waktu saja. Dan Alhamdulillah, problem solved ;)

Well,well.. Juni mulai berisi dengan debat sana sini. Sedikit pesan lewat lagu untuk Bapak Presiden, dan juga kepakan karir yang sebetulnya ingin saya hubungkan bahwa Fitrah Wanita, pada dasarnya dan selayaknya adalah dipimpin oleh lakilaki. Jadi, nomer 2 aja deh. *hehe, silakeun dihubungkan sendiri apa maksut saya* :p

Hari berikutnya, lebih banyak berisi perhatian saya pada bahasa, dan juga karir. Bisa dibaca di sini, sini, dan sini. Juga sebuah ungkapan terima kasih melalui blog atas buah bajunya :)

Oh iya, bulan ini juga saya mulai beranikan diri untuk tak lagi bandel bales sms di jalan. Lebih tepatnya, ga bales sms ketika saya sedang mengendarai sepeda motor ato mengemudi mobil. The most important thing as our reminder for this month is: pelajaran zuhud dari ragam sudut kehidupan. Tentang narsis, uwm... silahkan ambil kesimpulan masingmasing aja yah ;)

Sekian muhasabah untuk bulan ini. Sekarang kepala saya pusing banget, kawan. Semoga saya baikbaik saja, amiin.

Monday, 29 June 2009

Akulah para...

Akulah para pencariMu, ya Allah…

Pasti temanteman ngga asing kan dengan syair lagu itu? Well, well. Bagi yang sudah terbiasa mendendangkan lagu itu, pertemuan antara kata ‘para’ dan ‘aku’ barangkali sampai dengan detik ini masih saja dianggap lumrah, benar, dan tidak ada salah. Apalagi, kalo temanteman adalah fans beratnya Ungu hehe. Mana mau ya idolanya dianggap melakukan kesalahan berbahasa.

Anyway, itulah yang terjadi pada kelompok music favorit *ato bukan* anak muda bernama Ungu ini. Tepat di bagian refrain, pencipta lagu ini melakukan kesalahan fatal. Bagaimana mungkin ‘aku’ yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai penulis atau pembicara *gak ada penyanyi ya hehe*, mengacu pada diri sendiri. Diri sendiri, berarti tunggal, ya keun? Bilang saja iya hehe. Akui saja bahwa Ungu, dalam lagu berjudul Para PencariMu ini sudah melakukan kesalahan dalam memilih kata. Mengapa salah?

Kalau saja kata ‘para’ diganti dengan ‘yang’, mungkin tidak akan ada bahasannya di sini. Namun, sayang sekali, ketika ‘aku’ disandingkan dengan ‘para’, maka dengan berat hati saya nyatakan bahwa sebuah kesalahanlah yang dilakukan oleh temanteman Ungu *aih, apakah mereka mau mengakui saya sebagai teman? Eheheh*. Oke, terlepas dari mau atau tidak mau Ungu menyebut saya sebagai teman, tapi saya mau mengabari temanteman bahwa kata ‘para’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki 5 makna berbeda. Apa saja?

1. pa•ra p kata penyerta yg menyatakan, pengacuan ke kelompok: -- tamu mulai berdatangan
2. pa•ra n karet; getah (perca): (per)kebun(an) --
3. pa•ra n, pa•ra-pa•ra n 1) anyaman bambu dsb tempat menaruh perkakas dapur; pagu; 2) rak untuk menjemur ikan; 3) rak atau jala untuk menaruh barang-barang (di kereta api)
4. pa•ra kp parasut
5. pa•ra n 1) prajurit dl kesatuan angkatan udara; 2) kesatuan angkatan udara

Nah, lihatlah makna kata ‘para’ nomor 1, kawan. Saya sangat yakin, makna dalam ‘para’ itulah yang dimaksud oleh temanteman Ungu.

Coba, sekarang saya tanya ke temanteman, kepada siapa kata tersebut diacukan? Iyap, jika temanteman menjawab kepada kelompok, maka jawaban temanteman sangat tepat. Jadi, bisa menerima kan kenapa saya ga terima ketika Ungu menyandingkan kata ‘aku’ dengan kata ‘para’ ;)?

Sunday, 28 June 2009

Narsis, Musyrik?



Kemunculan tulisan ini berawal dari komentar salah seorang teman ketika akan ada 'sesi pemotretan' di apel siaga pagi tadi. "Ya ampuuun, ikhwanikhwan ni narsis". Kemudian, saya pun mengingat kembali momen rihlah DPC Barat yang saya gak ikut, dan sahabat saya, Kak Sinta berujar, "Sini lah dini, ikut meramaikan... ternyata kader barat ni narsisnarsis". Oalaaaah...

Saya sendiri, sudah cukup lama mendeskripsikan diri saya di halaman ini sebagai seorang yang memiliki sifat yang kayaknya, sekarang akan segera saya tekan intensitas dan kuantitas kemunculannya dari dalam diri. Agak serem juga soalnya, setelah ngebaca status salah seorang Dosen, yaitu Bapak Drs. Ikhsanudin, M. Hum yang berbunyi seperti ini:

Seberapa tingkat kemusrikan narsisme ya...?
23 June at 11:23

Saya yang merasa mendeskripsikan diri dengan 6 huruf itu, otomatis ngomen:

Dinie Hazel at 12:25 on 23 June
maksudnya pak? narsis itu musrik?

Ikhsan Ikhsanudin at 13:02 on 23 June

Ya... gitu deh. Narsis merupakan bagian dari kesombongan dan kesombongan adalah bagian dari kemusyrikan.

Dinie Hazel at 13:12 on 23 June
astaghfirullah.. betol gak pak.. syukron pak sudah mengingatkan..

Ikhsan Ikhsanudin at 13:22 on 23 June
Jagalah kati, jangan kau kotori....

Okeh. Sampai dengan tanggal 23 Juni 2009, saya belum terlalu memikirkan tentang kata NARSIS. Sebetulnya, dulu saya pernah berusaha cari tau tentang narsis, bahkan pernah menjadikannya topik untuk program English Teletalk. Di blog saya sendiri, kata narsis cukup sering bermunculan. Coba aja ke paman google, trus masukin keywrod: thekupu narsis hoho ternyata sebuanyak ituuuuh :o


Kata tante wiki, narsis itu berasal dari kata Narsisisme. Mencintai diri sendiri yang berlebihan. Waduh, saya langsung menggarisbawahi kata: berlebihan. Okeh, wrap up one word ya kawan. Sejarah narsis ini sendiri, awal mulanya adalah dari mitos Yunani. Tersebutlah, Narcissus yang dikutuk sehingga ia cinta pada bayangannya sendiri. Is is is... sama dong kayak orang narsis kalo lagi ngadep cermin. :p Anyway, di Kamus Besar Bahasa Indonesia, narsis hanya diartikeun sebagai: tumbuhan berbunga putih, krem, atau kuning, terdapat di daerah subtropis; Amarylidaceae.


Eniweh, gimana kalo kita simak dulu beberapa pendapat tementemen saya yang jamaah fesbukiyah? Ini dia pendapat mereka ketika saya lontarkan status "jadi kefengen tau, NARSIS itu sipat negatip ato positip siy? Fenasaran deh..." *Rizky Wahyuni Idris like it* hehe...

Nieta Wardani at 08:47 on 28 June
Trgantung niatx,sy narsis bgt loh mbk...

Adi Pramono at 08:48 on 28 June

Ferdasarkan fengalamanku, fisa fositif juga, tafi kemfali lagi, sesuatu yang ferlefihan itu tifak faik.

Feh, feh, fanyak kafas di mulutkfu...

Chintya Ranjani at 08:52 on 28 June
buad dince : NEGATIF

kok kayak tes hamil yegh?

Mushab Umair at 08:52 on 28 June
Kalo lbh banyak mangfangatnya dpd mudzaratnya ya positif din...hohoho....

Miranty Ariesya at 08:59 on 28 June

Trgntung frekuensi n intensitasny din,narsis tc sbnrny sjnis pnykt kjiwaan smcm gnguan kpribadian..

Bernard Sembiring at 09:00 on 28 June

Tergantung Dini mengelolanya...kalau sewajarnya ya bisa menjadi potential factor tapi kalau berlebihan tanpa ada pengingkatan kualitas lainnya...bisa berakhir seperti opera sabun actress/actor di Indonesia...heheehehe

Andriy del Borneo at 09:08 on 28 June
tingginya sipat narsis, pasti diiringi dgn tingginya sipat egois dlm diri seseorang..

Asroruddin Zoechni at 09:31 on 28 June

Positif! Untuk menunjukkan eksistensi diri.. Tau kan cerita awalnya orang yang bernama Narcis? Dia berkaca di air danau.

Fika Rizqia at 09:36 on 28 June

Narsis is the way to be exist...ayo din kite makan kerufuk amflang dari ketafang di de-fe-er brsama fak dekan..huehehe


Wokeh, segitu aja. Komenkomen dibawahnya itu udah mulai OOT alias out of topic.


Okeh. Di sini kita bisa liad, bahwasanya terdapat pro dan kontra yang menyikapi narsis itu sebagai sifat positif ato negatif. Masih menurut tante wiki, Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir (Freud Sigmund, 1914). bahkan Andrew Morrison berpendapat bahwa dimilikinya sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain (1997. Shame: The Underside of Narcissism. The Analytic Press. ISBN 0-88163-280-5).


Lalu, bagaimana Islam memandang narsis? Benarkah Allah SWT memiliki sifat narsis? Kalo saya ngeliat dari jawaban Pak Ikhsan, yang menyatakan bahwa narsis adalah bagian dari kesombongan, maka bener yah bahwa Allah SWT itu sombong. Dan berhak untuk sombong. Aiiih, kenapa jadi repotrepot begini ngurusin satu kata aja ._. Diksi, oh diksi...


Yah sudahlah, kawan... Yang penting gini: yang biasabiasa aja ;) Lagipula, kalo tementemen beneran kepengen tau bahwa indikasi narsis itu sebetulnya merepotkan, pasti kita juga ga bakalan betah terlalu lama memelihara kenarsisan. Kayak gimana tho indikasi narsis? Akan lebih seru kalo tementemen baca sendiri di sini. :D


betewe, mosting ginian masuk kategori narsis gak ya?