dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Sunday, 19 February 2012

Menjaga Mulut dan Jempol

Jaga Mulut


Hidup di era globalisasi dengan akses komunikasi yang terbuka lebar selebar-lebarnya dan semakin banyak social media seperti sekarang ini sungguh merupakan tantangan berat. Loh? Bukannya semakin mudah dan banyak akses komunikasi justru semakin mempermudah hidup ya? In some cases, yes. Untuk menunjang komunikasi pasangan suami istri yang terpaksa menjalin Long Distance Relationship, misalnya. Juga untuk para pengusaha online shop. Banyaknya socmed justru semakin membuat dagangan mudah untuk laris maniisss.

Tantangan berat yang saya maksud adalah di bagian menjaga jempol dari menuliskan hal-hal yang sebaiknya tidak dituliskan, serta menjaga mata dari membaca hal-hal yang sebaiknya tidak dibaca. Saya sebetulnya sangat takut, takut banget kena "kaburo maqtan 'indallaah an taqulu ma la taf'aluun", Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. :(((( Saya sendiri, jujur saja, PERNAH melakukan ini :( Dan berjanji kapada diri saya sendiri untuk tak lagi melakukannya setelah membaca sebuah hadits tentang hal ini *rasanya pengen ga jadi nulis aja deh ini T__T* 

Anyway, sebelum dilanjutkan, semoga tulisan ini bisa menjadi friendly reminder bagi kita bersama, terutama yang sampai detik ini masih sering menyebut-nyebut kejelekan orang lain, bahasa kerennya: GHIBAH, baik secara lisan maupun tulisan. Apa itu ghibah? 

Rasulullah Saw pernah menguji para sahabat dengan pertanyaan “Tahukah kamu apa ghibah itu? sahabat menjawab: Allah dan Rasulullah yang lebih tahu. Kemudian Nabi bersabda: Menceritakan keadaan saudaramu yang ia tidak suka diceritakan pada orang lain. Lalu Sahabat bertanya: Bagaimana jika memang benar keadaan itu ? Nabi menjawab : "Jika benar yang kau ceritakan itu, maka itulah ghibah, tetapi jika tidak benar ceritamu, maka itu disebut buhtan (fitnah) dan itu lebih besar dosanya"

Astaghfirullahal'adziim. See? 
Kalau benar, itu ghibah. 
Kalau salah, itu fitnah. 

Terlebih, menceritakan keadaan masa lalu seseorang yang sudah jelas-jelas tak suka kalau dikisahkan kepada orang lain. Siapapun itu orangnya, orang dekat sekalipun. Untuk apa memangnya tau cerita lalu orang lain? Apalagi kalau ceritanya disimak sepihak, belum tentu betul pula. Na'duzubillahi min dzaliik. 

Hadits yang membuat hati saya gundah gulana adalah hadits ini:

Rasulullah bersabda “Ghibah itu lebih keras daripada zina.” Mereka bertanya: “Bagaimana ghibah lebih keras dari zina, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang telah berzina, kemudian bertaubat dan Allah pun mengampuni dosanya, sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni Allah, hingga orang yang di-ghibah-nya mengampuninya.” (HR. Baihaqi)

Setelah baca hadits ini beberapa hari lalu, rasanya ingin sekali punya mesin waktu supaya tau siapa saja yang baik sengaja maupun tidak, pernah saya jadikan objek ghibah. Sungguh lidah ini tidak bertulang, gampang sekali terpancing untuk mengucapkan perkara-perkara yang sudah jelas haram :( Begitu pun jempol dan jemari lain yang seharusnya lebih banyak dipakai untuk hal yang lebih baik. 


Lewat postingan ini, saya memaafkan siapapun yang pernah menjadikan saya sebagai objek ghibah, dimintai maaf maupun tidak. Sekaligus minta tolong diingatkan ya teman-teman bilamana tulisan saya di social media manapun (twitter, facebook, plurk, hi5, dll) mengandung unsur-unsur ghibah. Saling mengingatkan :)


”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr 1-3).


Wallahualam bisshawwab.

Golongan Darah AB

Kapan teman-teman pertama kalinya mengetahui golongan darah yang mengalir dalam tubuh masing-masing? Saya pertama kali tau ketika akan mendonorkan darah untuk Ibunya teman saya. Waktu itu pukul 9 malam, saya ditelpon sama Elisa, dikabari bahwa mama temannya *yang juga teman saya* sedang kritis, perlu beberapa kantong darah bergolongan AB. Meluncurlah malam itu saya ke PMI Kalimantan Barat. Padahal, waktu itu saya belum yakin, benarkah golongan darah saya AB?

Patokan saya hanyalah dari fakta bahwa Bapak saya bergolongan darah A, dan Ibu saya B. Kata mereka sih golongan darah saya AB. Saya percaya aja karena mikirnya darah orangtua saya nyampur jadi satu gitu kan. Kayak orang ga belajar biologi ajaa dah ah wakakak. Padahal waktu di MAN 2, saya adalah salah satu siswa IPA loooh hihihi. 

Berbekal keyakinan bahwasanya saya adalah anak kandung mereka *waktu SMP saya sering mikir kalo saya ini sebetulnya anak angkat karena sering betul dimarahi, sungguh abege labil's mind* maka dengan pedenya saya menuju sebuah ruangan di PMI. Sebelum donor, mbak petugas PMI terlebih dahulu ngecek whether or not Hemoglobin saya memenuhi syarat untuk dilakukan pendonoran. Daaan, eng ing eeeng, "Hb-nya rendah mbak, ndak bisa donor." Oh, kecewanya rasa hati tak bisa ikut serta mendonorkan darah yang hanya ada 4% dari seluruh penduduk dunia ini :(

Setelah mbak petugas tersebut ngasi tau kalo Hb saya rendah, langsung terlintas dalam pikiran saya buat sekalian nanya adakah benar golongan darah saya AB. "Mbak, tapi betul kan golongan darah saya AB?", betapa terdengar aneh barangkali pertanyaan itu diajukan oleh seorang yang akan mendonorkan darah. "Iya betul mbak." Cihuy, riang gembiralah saya, ternyata saya memang anak kandung ahahaha.

Tapi ternyata teman-teman, logika tentang Ayah bergolongan darah A dan Ibu dengan golongan darah B kemudian anaknya sudah pasti AB adalah belum tentu tepat 100%. Bahkan kalau golongan darah saya O pun, saya tetap bisa menjadi anak kandung mereka *kemudian skeptis lagi apakah saya anak kandung atau bukan .__.*. Pengetahuan ini saya dapatkan akibat suka membaca Manga Detective Conan. Di volume 62 file 10, Shinichi Kudo mengatakan: "Sesuai dengan teori genetika mendel, orang yang bergolongan darah AB dan orang yang bergolongan darah O, tidak mungkin bisa menghasilkan anak yang bergolongan darah O." Ooooh plisdeh ngapain aja saya waktu pelajaran biologi, ilmu seperti ini malah didapat dari komik. 

Naah, berhubung saya sudah sah bergolongan darah AB dan suami saya bergolongan darah O, maka tentulah teori ini berlaku untuk kami berdua. Saya pun iseng gugling untuk mencari tau kirakira kalau suatu hari nanti kami dititipi anak-anak, golongan darah apa saja yang mungkin mereka miliki. Didapatlah tabel seperti di bawah ini:

Pewarisan golongan darah

Hanya ada 2 kemungkinan jika pasangan bergolongan darah O dan AB bersatupadu, yaitu anak dengan golongan darah A, atau bergolongan darah B. Wow! Kenapa bisa begitu? Karena, didalam O ada AB, A dan B kecil. Didalam AB, ada O, B, dan A  kecil, jadi tdk 100% murni AB isinya hanya AB saja. Ini kalau dalam hematologinya, dalam perkawinan, tidak ada pencampuran darah yang terjadi, yang ada adalah pencampuran genetika, dimana sperma O carrier (artinya O nya besar, dan lainnya kecil) bersekutu dengan sel telur AB carrier. Dalam pencampuran tadi akan sangat tergantung pada carrier siapa yang lebih kuat, bila sang Ibu AB, maka anak-anaknya akan jadi Carrier AB. Bila janin O dan ibu AB, tidak ada saling meracuni selama Rh keduanya tidak bertolak belakang. Oh, sounds so clever dan ilmiah sekali ya jawaban saya. Padahal copas dari milis dokter umum :p

Dan, one more thing, walopun kedua orangtua saya berpotensi menghasilkan anak dengan semua golongan darah: O, A, B, dan AB, setelah beranjak dewasa dan akhirnya menikah, saya haqqul yaqeeen kalo saya ini anak kandung hehehe. 

Baiklaah. Semoga postingan saya kali ini bermanfaat untuk teman-teman. 

Wednesday, 15 February 2012

Excellent Blog Award

Excellent Blog Award

Setelah 4 kali dapat award untuk blog ini dan sekali memberi thekupu award untuk beberapa orang, kali ini saya mendapatkan sebuah award yang sangat cool dan spesial! Sampe dibuatkan piagam penghargaan khusus sama Kang Asep. Merasa terharu deh jadinya :') It's such a nice thing to be one of four bloggers having this award.


Bagi beberapa orang, design gambar seperti di atas mungkin mudah dan gampang sekali dibuat sendiri. Bagi saya pun mudah kok. Suami saya siap sedia kalo dirikwes untuk dibuatkan design seperti Piagam Penghargaan dari Kang Asep. Namun bukan tentang design gambarnya inti dari blog award dari Kang Asep. Sebagaimana yang beliau tulis di blognya, tujuan dari diberikannya penghargaan ini adalah untuk pererat tali persahabatan dengan sesama blogger Indonesia. 

Bagi saya, to be awarded this one, sungguh terasa seperti ditampar pelan tapi sakiiiit. Apanya yang mencerahkan yaa dari blog ini? Hehehe. Anyway, semoga benar-benar memberikan pencerahan untuk teman-teman yang bersedia baca blog ini, bermanfaat untuk kebutuhan masing-masing dalam mencari inspirasi, motivasi, atau sekedar blogwalking cari hiburan ^.^

Last but not least, thank you sooo much saya berikan untuk Kang Asep yang telah berbaikhati menjadikan saya sebagai mitra blog, memberikan backlink di blog dengan page rank 3, sekaligus bikinin design piagam penghargaan ini. By the way kang *pura-puranya lagi ngomong sama Kang Asep :p* apakah boleh kalo saya rikwes, nama saya di halaman blog partner tersebut diganti jangan pake Mrs tapi pake Miss ajah? Walopun saya udah nikah, tapi gamauuu pake Mrs huhuhu. Sungguh mitra blog yang ngerepotin ya kang huehuehue. 

Thank youuu Kang Asep ^^

Buat Kang Asep, saya kasih sekeranjang penuh ucapan terima kasih deeeh. Semoga makin oke dokeh blog kita bersama :D