dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Thursday, 11 October 2012

Standar Ganda

Alhamdulillaah, akhirnya setelah sepekan koneksi speedy rumah saya mengalami gangguan sehingga mengakibatkan aktivitas ngenet saya terhambat, hari ini lampu indikator Wi-Fi gak kedip-kedip lagi, alias nyala 3-3nya. Horaaaay...


Standar ganda bahasa media (anti Islam, tentunya) : 
Insult African Americans, and it's called 'racism'.
Insult Jewish people, and it's called 'anti-Semitism'.
Insult women, and it's called 'sexism'.
Insult homosexuals, and it's called 'intolerance'.
Insult your country, and it's called 'extremism'.
Insult Muhammad, and it's called 'free speech'.

Kalimat di atas saya copy dari siapa yaa.. Dari grup apa dari twitter apa dari mana gitu. Intinya, betapa saya sepakat banget dengan rangkaian kalimat tersebut.

Ya, standar ganda. 

Kalo pake istilah anak kecil: dia boleh, kita gak boleh.

Dia boleh menentukan sendiri apa yang ada di dalam handphone-nya, tapi giliran saya mau menentukan isi handphone saya sendiri, eh dia bilang saya cupu. Standar ganda ah kamu.

Dia boleh bilang kalo nyindir itu ga oke, eh tapi kok dianya juga nyindir. Standar ganda juga ah kamu.

Nah, itu contoh yang cemen-cemen tuh. Contoh dalam skala yang lebih besar ya itu, kalimat yang saya copy paste dan saya bold di atas.

Standar ganda. Ngeri ya..

Thursday, 4 October 2012

Tak Cukup Apa Adanya


Kriteria calon suami:
1. Muslim, beriman dan bertaqwa
2. Rajin bekerja
3. Sehat
4. Tidak gaptek
5. Menerima saya apa adanya

Kriteria calon istri:
1. Muslimah, berjilbab
2. Bersedia untuk bekerja di rumah
3. Sholehah
4. Sehat
5. Menerima saya apa adanya

Yang di atas itu hanya contoh kriteria yang pada umumnya diajukan oleh seorang lajang yang mendambakan pasangan untuk diajak menghabiskan sisa usia. Kalimat nomor 5: Menerima saya apa adanya, adalah kalimat yang paling sering saya dengar di antara kriteria lainnya. Apalagi kalo yang ditanya anak remaja. Bisa muncul duluan tuh kalimat tersebut.
Saya sih yang penting dia mau nerima saya apa adanya.
Begitu.

Sama sekali tak salah kalau kita ingin dapatkan pasangan yang dengan ikhlas dan ridho menerima kita apa adanya. Kalau kita cantik, ya diterima aja apa yang ada. Apalagi kalau kita cantek banget, terima saja lah.

Tapi bagi saya, menerima apa adanya saja tidak cukup. 

Bagaimana kalau kita adalah seorang yang pemarah? Rela-kah kita jika kelak pasangan kita hari-harinya habis bersama seorang manusia yang sering marah-marah? Aih, kasian kan.

Maka dari itu, bilamana mendambakan pasangan yang membahagiakan di dunia dan juga akhirat, pilihlah yang bersedia bersama-sama bergerak menjadi lebih baik, bukan yang sekedar menerima kita apa adanya :)

Mengerti kan maksud saya?

Wednesday, 3 October 2012

Mengapa Kau Bertanya

Bukan, ini bukan bagian dari lirik lagunya Yuni Shara. Ini judul tulisan tentang tanya-tanyaan.

Pernahkah teman-teman bertanyatanya, kenapa sih orang bertanya? 


Menurut saya, motivasi bertanya itu paling tidak ada 3 macam:

1. Mau tau banget.
2. Mau tau aja.
3. Cuman ngetes.

Contoh nomor 1 misalnya saat lagi di dalam kelas, lagi pelajaran fisika. Eh ga usah fisika deh. Kalau pelajaran fisika biasanya saya malah bingung mau nanya apa saking susahnya :p

Pelajaran Bahasa Inggris aja. Misalnya, guru lagi menyampaikan materi tentang Conditional Sentence. Ada 1 hal yang mengganjal di pikiran seorang siswa dengan contoh kalimat yang diberikan guru:

If I had had the book, you would have borrowed it.

Kenapa kata 'had' nya sampai 2 kali? Muncullah pertanyaan tersebut. 

Bagi siswa yang memang ingin benar-benar menguasai materi Conditional Sentence, pertanyaan semacam ini muncul karena dia penasaran dan mau tau banget jawabannya. Karena, bisa jadi nanti di ujian akan muncul soal seperti itu. Atau, mungkin saja ketika nanti akan menggunakannya untuk percakapan sehari-hari, dianya udah ga bingung lagi kenapa 'had' bisa bersanding dengan 'had'.

Begitu.

Contoh nomor 2 misalnya situasi di sebuah kolom komentar blog *halah*. Contoh terfreshnya adalah pertanyaan yang diajukan sama Kak Diar di postingan saya yang kemarin. Atau contoh lain, saat kita bertemu dengan kenalan di tempat umum, trus muncul pertanyaan: "Abis dari mana? Mau kemana?", itu adalah jenis pertanyaan mautauaja, yang kalo ga dijawab juga ya udah sih, cuman pengen tau aja. 

*Ps. Kak Diar, btw postingan ini ditulis bukan karena pertanyaan Kak Diar kemaren loh kakak cantiik, topik ini udah berbulan lamanya tersimpan dalam rencana list postingan hehehehe ^^v <-- yang ini contoh: ngasihtauaja :p*

Contoh nomor 3 misalnya ketika kita barusan dibohongin. Kita tau nih ceritanya perihal yang sebenarnya. Dalam rangka 'ngetes' kejujuran orang tersebut *siapa tau setelah ditanya lagi dianya jadi jujur, gitu*, maka kita mengajukan sebuah pertanyaan. 

Atau contoh lain, saat sedang mengikuti mata kuliah Agama Islam, misalnya. Ketika dosen selesai menjelaskan dan ngasi kesempatan untuk bertanya, berhubung tak ada seorang pun yang menggunakan kesempatan itu, maka seorang mahasiswa iseng pengen ngetes dosennya dengan pertanyaan: "Pak, apakah berjilbab itu wajib?", padahal dia sudah tau jawabannya jelas dan ada dalam kitab suci AlQur'an.

Jadi intinya, bertanya dengan motivasi cuman ngetes adalah situasi saat kita sudah punya jawabannya. Begitu.

Tentang tanya-tanyaan, 3 poin itu sih versi saya. Kalo versi AlQur'an dan Sunnah, langsung meluncur ke halaman wordpress saya aja :D *kemudian promo :p*

Baeklah. So far, any question? *winkwink*